Showing posts with label Akhlak. Show all posts
Showing posts with label Akhlak. Show all posts

Kumpulan Ayat Ayat Dakwah






وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. Ali Imran [3]: 104)


كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْراً لَّهُم مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Q.S. Ali Imran [3]: 110)

Bahaya Sifat Dengki

Dengki atau hasud merupakan salah satu dari sifat yang dibenci oleh Allah SWT. Karena sifat ini mengotori kejernihan hati manusia. Orang-orang yang hatinya dipenuhi sifat dengki tidak dapat berfikir dengan jernih dan benar. Pikirannya selalu dipenuhi oleh prasangka buruk terhadap orang lain dan tipu muslihat yang kejam.

Manusia pendengki adalah manusia yang tidak pernah mensyukuri nikmat Allah, karena dirinya terlalu dibebani oleh kebencian akan nikmat yang diberikan Allah kepada orang lain, sehingga ia lupa akan nikmat yang Allah berika kepada dirinya sendiri.

Sifat dengki membuat orang sibuk mencari kesalahan orang lain, dan lupa untuk mengintropeksi diri sendiri. Seorang pendengki tidak bisa merasakan ketenangan dalam hidup, karena selalu menganggap kesuksesan orang lain sebagai ancaman dan penderitaan bagi dirinya. Padahal, setiap orang memiliki peluang yang sama untuk sukses dan berhasil.

Sebagai seorang muslim, kita harus berusaha mengikis habis rasa dengki dalam hati. Sebab, rasa dengki bisa menghabiskan amal kebaikan yang telah kita lakukan dengan susah payah, sebagaimana sabda Rasulullah saw. Dari Abu Huraira ra. Bahwa rasulullah saw. bersabda, “Jauhilah oleh kalian sifat dengki, karena sesungguhnya sifat dengki itu dapat menghabiskan amal-amal kebaikan, sebagaimana api dapat menghabiskan kayu bakar.”

Jika demikian, bukankah kita merugi, jika usaha kita untuk melakukan ibadah dengan sungguh-sungguh harus hilang hanya karena sifat hasut yang bersarang didalam hati kita. Hanya orang-orang bodoh saja yang menukar amal ibadahnya dengan membenci kesuksesan orang lain.

Lalu bagaimana mengikis rasa dengki dalam hati kita? Untuk mengikis rasa dengki, kita harus memiliki keyakinan yang kuat akan kekuasaan Allah. Kita harus yakin, bahwa kesuksesan dan kesejahteraan manusia ditentukan oleh Allah swt. Bukan semata-mata hasil kerja kerasnya. Dengan keyakinan seperti ini, kita memiliki kepercayaan yang kuat terhadap kekuasaan Allah atas segala makhluknya, termasuk terhadap nasib dan peruntungan kita.

Sifat dengki juga bisa kita kikis dengan berorientasi pada diri sendiri. Yang dimaksud disini bukan mengembangkan sifat egois dalam diri kita, tetapi lebih kepada intropeksi diri dan kemampuan memfokuskan diri. Misalnya, ketika melihat orang lain sukses, maka dalam benak kita jangan pernah berfikir bahwa dia harus gagal supaya saya sukses. Tetapi berpikirlah, saya harus sukses melebihi dia.

Maka yang menjadi ukuran kesuksesan kita adalah diri kita sendiri, sehingga kita tidak perlu mengorek-ngorek kesalahan orang lain, tetapi tetap berfokus untuk mengembangkan diri sendiri menjadi lebih baik dari orang lain.

Wallahu ‘Alam.

Pergaulan Dalam Islam

Gaul, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya hidup berteman dengan akrab. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak mungkin hidup sendiri. Mereka membutuhkan orang atau makhluk lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Kebutuhan manusia bermacam-macam. Ada yang bersifat fisik seperti makan minum dan ada yang non fisik seperti rasa aman, kasih sayang, ketenangan dan lain-lain. Untuk memenuhi berbagai kebutuhan itu, manusia membutuhkan teman yang tentu saja diperolehnya melalui pergaulan.

Masalahnya, teman seperti apa yang benar-benar baik sehingga pergaulan yang terjain sehat, dinamis dan islami. Elizabeth B. Hurlock dalam bukunya yang berjudul Development Psychology (Psikologi pengembangan), membagi teman menjadi 3 golongan yaitu :
1. Rekan, yakni orang yang menjadi teman kita karena dia berada dalam lingkungan yang sama dengan kita
2. Teman bermain, yaitu individu yang terlibat dalam kegiatan yang menyenangkan bersama 
3. Teman baik, yaitu seseorang yang dapat kita ajak bertukar pendapat, saling percaya dan saling memberi. Kelompok terakhir ini yang dalam istilah gaul disebut sohib alias teman dekat.

Sayangnya penggolongan diatas tidak menyertakan batasa-batasan khusus, tentang siapa dan kelompok apa yang pantas menjadi teman gaul kita. Hal ini berbeda dengan aturan yang tertulis dalam Al-Qur’an. Al-qur’an dengan tegas mengatur pedoman dan rambu-rambu orang yang tidak boleh alias terlarang dijadikan teman.

Allah SWT. Berfirman :

إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَىٰ إِخْرَاجِكُمْ أَن تَوَلَّوْ هُمْ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS. Al-Mumtahanah : 9)

Ayat diatas menunjukkan betapa besar perhatian Allah SWT pada kehidupan sosial hamba-Nya. Hal ini untuk menjaga agar umat islam senantiasa waspada. Sebab Syaitan sering menggunakan persahabatan sebagai senjata untuk menghancurkan Aqidah dan keimanan umat islam.

Karenanya, dalam berhubungan dengan orang lain dikenal dua istilah. Yaitu sahabat sejati dan musuh sejati. Sahabat sejati adalah orang yang selalu mengajak kita untuk mengerjakan yang ma’ruf dan meninggalkan yang mungkar. Sebaliknya musuh sejati mengajak untuk mengerjakan kemungkaran. Musuh sejati tidak selalu berarti lawan kita di mendan perang. Bahkan musuh sejati bisa jadi ada disekitar kehidupan kita. Makan bersama kita, ngobrol dan bermain bersama kita. Sehingga kadang manusia tertipu dan menganggap seseorang adalah teman sejatinya, padahal dia adalah musuh sejati yang bisa merusak kehidupan kita.

Sebelum terlambat, sebaiknya kita berpikir dan menelaah. Lebih lagi, dalam lingkunngan bagaimana kita bergaul dan siapa yang kita jadikan teman dekat kita. Jangan sampai orang yang kita anngap teman dekat, ternyata justru musuh sejati yang siap menikam aqidah dan iman kita.

Wallahu 'Alam.

Wajah Orang-Orang Beriman Akan Bercahaya Dan Wajah Orang-Orang Kafir Akan Diliputi Kehinaan

Ini merupakan sebuah rahasia yang telah diungkapkan oleh Allah didalam Kitab-Nya bahwa keimanan dan kekufuran seseorang manusia itu akan tercermin pada wajah dan kulitnya. Allah telah memberitahukan bahwa terdapat cahaya di wajah orang-orang yang beriman, yaitu orang yang taat pada perintahnya dan menjauhi larangannya. Sedangkan wajah orang-orang yang kafir akan diliputi oleh kehinaan.

Allah Berfirman :

وَتَرَاهُمْ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا خَاشِعِينَ مِنَ الذُّلِّ يَنظُرُونَ مِن طَرْفٍ خَفِيٍّ ۗ وَقَالَ الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ الْخَاسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ أَلَا إِنَّ الظَّالِمِينَ فِي عَذَابٍ مُّقِيمٍ

Dan kamu akan melihat mereka dihadapkan ke neraka dalam keadaan tunduk karena (merasa) hina, mereka melihat dengan pandangan yang lesu. Dan orang-orang yang beriman berkata: "Sesungguhnya orang-orang yang merugi ialah orang-orang yang kehilangan diri mereka sendiri dan (kehilangan) keluarga mereka pada hari kiamat. Ingatlah, sesungguhnya orang-orang yang zalim itu berada dalam azab yang kekal. (Q.s. asy-Syura: 45).

لِّلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ ۖ وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ ۚ أُولَـٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ﴿٢٦﴾ وَالَّذِينَ كَسَبُوا السَّيِّئَاتِ جَزَاءُ سَيِّئَةٍ بِمِثْلِهَا وَتَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ ۖ مَّا لَهُم مِّنَ اللَّـهِ مِنْ عَاصِمٍ ۖ كَأَنَّمَا أُغْشِيَتْ وُجُوهُهُمْ قِطَعًا مِّنَ اللَّيْلِ مُظْلِمً ۚ أُولَـٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ ﴿٢٧﴾

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik dan ada tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak pula kehinaan. Mereka itulah peng­huni surga, mereka kekal di dalamnya. Dan orang-orang yang mengerjakan kejahatan memperoleh balasan yang setimpal dan mere­ka diliputi kehinaan. Tidak ada bagi mereka se­orang pelindung pun dari azab Allah, seakan-akan muka mereka ditutupi dengan kepingan-kepingan malam yang gelap gulita. Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Q.s. Yunus: 26-27).

Sebegaimana yang telah dijelaskan dalam ayat-ayat tersebut, wajah orang kafir akan selalu diliputi oleh kehinaan. Sedangkan, wajah orang yang beriman akan selalu bercahaya. Allah menyatakan bahwa mereka dikenal karena adanya bekas sujud mereka karena selalu melaksanakan shalat.

Allah berfirman :

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّـهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّـهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ اللَّـهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا 

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (Q.s. al-Fath: 29).

Allah juga mengkhabarkan kepada umat islam bahwasanya orang-orang kafir dan orang-orang yang selalu hanyut dalam dosa dan maksiat dapat dikenali dengan Firmannya yaitu :


يُعْرَفُ الْمُجْرِمُونَ بِسِيمَاهُمْ فَيُؤْخَذُ بِالنَّوَاصِي وَالْأَقْدَامِ

“Orang-orang yang berdosa dikenal dengan tanda-tandanya, lalu dipegang ubun-ubun dan kaki mereka.” (Q.s. ar-Rahman: 41).

وَلَوْ نَشَاءُ لَأَرَيْنَاكَهُمْ فَلَعَرَفْتَهُم بِسِيمَاهُمْ ۚ وَلَتَعْرِفَنَّهُمْ فِي لَحْنِ الْقَوْلِ ۚ وَاللَّـهُ يَعْلَمُ أَعْمَالَكُمْ

“Dan kalau kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka, dan Allah menge­ta­hui perbuatan-perbuatan kamu.” (Q.s. Muhammad: 30).

Keajaiban dan rahasia penting yang diung­kapkan dalam al-Qur’an adalah adanya per­ubah­an fisik yang terjadi pada wajah sese­orang. Hal itu tergantung pada keimanan dan dosa seseorang. Keadaan ruhani menghasil­kan pengaruh fisik pada tubuh, sekalipun bentuknya tetap sama, namun ekspresi wajah dapat berubah, yakni wajahnya diliputi kege­lapan atau cahaya. Jika Allah menghen­daki, orang yang beriman dapat melihat keajaiban ini yang ditunjukkan kepada orang-orang. 

Wassal

7 Etika Berbicara Dalam Islam

Islam merupakan agama yang sempurna tiada agama lain yang sanggup menandinginya. Islam mengajarkan kepada umat manusia agar berpelilaku baik terhadap sesama. Salah satu diantaranya ialah etika dalam berbicara. 

Ketika seseorang berbicara maka hendaklah ia memperharikan beberapa etika yang harus dipenuhi. Adapun etika dalam berbicara yaitu sebagi berikut:

1. Hendaknya berbicara selalau didalam kebaikan karena Allah sangat senang terhadap hambanya yang suka menyebarkan kebaikan melalui perkataan yang baik sehingga dapat mendamaikan berbagai permasalahan.

2. Hendaknya berbicara dengan suara yang dapat didengan, tidak terlalu keras dan tidak pula terlalu rendah, ungkapan-ungkapannya jelas sehingga dapat dipahami oleh semua orang yang mendengarnya dan tidak dibuat-buat atau dipaksakan.

3. Jangan membicarakan sesuatu hal yang tidak berguna. Karena perkataan yang tidak berguna dapat membawaki kita kepada kelalaian. Rasulullah saw. bersabda: Termasuk kebaikan Islamnya seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna (HR. Ahmad dan ibnu Majah)

4. Menghindari perdebatan dan saling membantah, sekalipun kita berada dipihak yang benar dan menjauhi perkataan dusta sekalipun bercanda.

5. Tenang dalam berbicara dan tidak tergesa-gera. Karena setiap perbutan yang dilakukan dengan terburu-buru maka kan menghasilkan sesuatu yang kurang baik.

6. Menghindari perbuatan menggunjing dan mengadu domba. Perbutan seperti ini dapat menyebabkan permusuhan diantara kedua belah pihak, maka jauhilah perbuatan tersebut karena Allah akan murka terhadap perbuatan demikian. Allah berfirman:Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain ( QS. Al-Hujarat: 12 )

7. Mendengarkan pembicaraan orang lain dengan baik dan tidak memotongnya, juga tidak menampakkan kelebihan kita didepan orang yang sedang berbicara didepan kita karena dapat mengurangi rasa percaya dirinya terhadap kita.

3 Tingkatan Nafsu Manusia

Nafsu merupakan keinginan dan kecerundungan jiwa yang kuat untuk memperoleh sesuatu yang bersifat ibadah atau pun maksiat. Nafsu juga mempengarungi pola pikir manusia, sehingga akan membawa seseorang untuk berpikir positif ataupun negatif.

Setiap manusia pasti memiliki nafsu, keinginan seseorang terhadap sesuatu disebabkan oleh nafsu, maka Allah telah memerintahkan kita untuk mengontrol nafsu kita agar dapat mengikuti kepada jalan yang baik.

Sebagaimana yang tertulis didalam kita Sirus Salikin bahwasanya nafsu yang dimiliki oleh manusia itu terbagi atas tiga macam. Berikut penjelasannya:

1.Nafsu muthmainnah 
Yaitu nafsu yang dimiliki para Wali Allah. Nafsu ini hanya bisa dicapai dengan jalan tasawuf, tangga pertama yang harus dilalui adalah dengan bertaubat. Adapun orang yang berada pada tingkatan nafsu ini telah mendapatkan rahmat Allah sehingga akan memperoleh kasih sayang Allah di dunia dan diakhirat. Insya Allah orang yang memiliki nafsu ini akan mendapatkan Husnul Khatimah di akhir hayatnya.
Allah SWT berfirman: “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam surgaKu,” (QS Al-Fajr: 27-30).

2. Nafsu Lawwamah
Yaitu nafsu yang bisa membedakan antara baik dan buruk. Nafsu ini juga membawaki manusia untuk melakukan kebaikan. Akan tetapi pada waktu yang lain juga membawaki manusia dalam kejahatan. Nafsu ini biasanya dimiliki oleh para penuntut ilmu, sehingga pada ketika ia berbuat kejahatan, ia akan langsung bertaubat. Tetapi ia masih mengulang kesalahannya pada waktu yang lain.

Allah SWT berfirman: “(Tetapi) kerana mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al-Maidah: 13).

3.Nafsu Ammarah.
Nafsu ini adalah nafsu yang sangat berbahaya. Barang siapa yang berada pada tingkatan ini maka akan mengarahkan ia kepada perilaku yang dilarang oleh agama. Maka jika kita berjumpa dengan orang yang berada pada tingkatan nafsu ini, hendaklah kita menasehatinya agar mau bertaubat kepada Allah dan kembali kepada jalan yang lurus.

Allah SWT berfirman: “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), kerana sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,”(QS Yusuf: 53).

Macam-Macam Perbuatan Sunnah Ketika Bagun Tidur

Islam merupakan agama yang mulia, indah, dan sempurna. Setiap aspek kehidupan telah diatur didalamnya. Rasulullah saw. telah mencontohkannya kepada seluruh umat. Salah satu yang dicontohkannya ialah sunnah-sunnah seletah bangun tidur. Ada beberapa perbuatan sunnah setelah bangun tidur yaitu :

1. Membaca do'a ketika bangun dari pada tidur
Bacaan pertama yang dibaca di pagi hari setelah bangun tidur adalah,

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ

"Segala puji bagi Allah, yang telah membangunkan kami setelah menidurkan kami dan kepada-Nya lah kami dibangkitkan".

2. Meggosok mulut dengan siwak
Siwak merupakan kayu atau sejenisnya yang digunakan untuk membersihkan mulut kita dari kotoran. perbuatan ini sangat disunnahkan oleh Rasulullah, sebagaimana yang tersebut didalam hadisnya yang artinya:, “Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam ketika bangun tidur menggosok mulutnya dengan siwak”. (Muttafaq’alaih)

3. Menghisap air ke dalam hidung.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Tatkala salah seorang di antara kalian bangun tidur, hendaklanya dia menghisap air ke hidung sebanyak tiga kali, sesungguhnya setan menginap di lubang hidungnya.” (Muttafaq ‘alaih)

4. Membasuh kedua tangan
Ketika bagun tidur kita disunnahkan untuk membasuh kedua tangan dengan air agar tangan kita menjadi bersih. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Ketika salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya hendaknya dia tidak mencelupkan tangannya ke dalam tempat (air) sampai dia membasuh tangannya itu sebanyak tiga kali.” (Muttafaq ‘alaih)

Itulah macam-macam sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah saw. kepada umatnya ketika bangun daripada tidur, semoga kita mau menjalankan segala sunnahnya, mudah-mudahan dengan menjalankan sunnahnya kita bisa mendapatkan syafaat di hari akhirat nanti
Aminn....

Berhati-Hatilah Dalam Bersumpah

Sumpah merupakan salah satu cara yang dilakukan oleh seseorang untuk membenarkan ucapan, perbuatan, atau persaksiannya kepada hakim. Sumpah juga memiliki tujuan untuk menguatkan perkataan kita sehingga akan membuat orang yang mendengatnya menjadi lebih yakin.

Namun kita sebagai seorang muslim tidak dibenarkan untuk menggunakan kata sumpah pada hal yang sepele. Jangan sedikit- sedikit pakai kata sumpah karena sumpah bukanlah hal yang sepele. Allah Berfirgan “Dan jagala sumpah kalian”. Jadi gunakanlah sumpah pada suatu permasalahan yang dianggap penting itupun kalau tiada cara lain melainkan dengan sumpah.

Adapun Ketika ingin bersumpah janganlah kita menggunakan kata-kata selain nama Allah. Karena dengan mengucapkan kata sumpah dengan selain nama Allah, maka itu dapat membawa kita kedalam kemusyrikan sehingga kita akan terjatuh kedalam kemaksiatan dan kekufuran.

Rasulullah saw bersabda yang artinya:
“Barang siapa yang bersumpah dengan selain Allah, maka sungguh ia telah berbuat kekefuran dan syirik.”

Kita selaku umat muslim juga harus berhati-hati dalam melakukan sumpah karena apabila kita melangar suatu sumpah, maka kita akan terkena kifarat (denda) sumpah. Seperti apabila seseorang bersumpah untuk tidak meminum susu selama setahun, namun baru 3 bulan ia telah meminum susu kembali, maka orang yang bersumpah tersebut akan terkena denda. Allah Berfirman yang artinya:
“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud [untuk bersumpah], tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kafarat [melanggar] sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barangsiapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kafaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kafarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah [dan kamu langgar]. Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur [kepada-Nya].

Namun apabila seseorang bersumpah untuk tidak melakukan sesuatu, namun ternyata sesuatu tersebut memiliki kebaikan yang besar didalamnya, maka sumpah yang telah ia ucapkan itu boleh untuk dilanngar. Tetapi ia tetap harus membayar denda karena telah melanggar sumpahnya. Rasulullah saw bersabda yang artinya:

“Jika kamu bersumpah terhadap sesuatu hal, lalu kamu melihat ada yang lebih baik dari sumpahmu (ada kebaikan), maka bayarlah kafarat untuk sumpahmu dan lakukan sesuatu yang lebih baik itu.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Meskipun sumpah diperbolekan namun kita harus mematuhi adab-adab adalam bersumpah yang dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Janganlah bersumpah kecuali sangat diperlukan
2. Bersumpah harus dengan nama Allah
3. Jagalah sumpah agar tidak terkena kafarat
4. Jangan melakukan sumpah palsu karena akibatnya akan sangat berbahaya

Jadi gunakanlah sumpah sesuai dengan aturan-aturannya agar tidak menjadi dosa bagi kita.

Wallahu ‘Alam




Adab Dalam Majlis Ilmu

Akhlak yang diajarkan Islam pada setiap kita memasuki majlis ilmu hendaknya kita mengucapkan salam dan masuk ke majlis dengan sopan santun. Selanjutnya duduklah ditempat yang kosong berdampingan dengan peserta terakhir (jangan melangkahi orang lain), tidak terpengaruh oleh pembicaraan yang tidak bermanfaat , apalagi ikut-ikutan .

Jika kita melihat suatu kemunkaran maka hendaknya di cegah dengan anggota badan , jika tidak mampu maka dengan ucapan kita, jika masih tidak mampu maka gunakan hati kita yaitu dengan berdoa supaya hal tersebut dihentikan oleh Allah SWT.

Ketika duduk di majlis janganlah kita meremehkan orang lain apalagi menghina karena mungkin orang yang kita hina tersebut lebih mulia dari pada kita tatepi kita tidak mengetahuinya.

Pada saat kita di dalam majelis janganlah kita melebih-lebihkan seorangpun dengan hartanya, karena hal itu dapat melemahkan agama seseorang dimata Allah.

Disaat kita telah meninggalkan majelis dan berada di jalan maka jagalah pandangan kita dari sesuatu yang seharusnya tidak pantas dilihat, jika kita melihat orang yang butuh bantuan maka bantulah semampunya. Selanjutnya, jika ada yang yang bertanya maka jawablah jika mampu menjawab. Jika ada yang mengucapkan salam maka jawablah dengan sopan, dan sebaiknya kitalah yang dianjurkan mengucapkan salam disaat bertemu orang lain.

Jika ada orang yang membutuhkan dan meminta-minta (pengemis) maka berikanlah sebagian dari yang kamu punya meskipun sedikit, selanjutnya berusahalah untuk selalu duduk sopan saat berada didalam majelis, karena seseorang akan menghormati orang jika dia berwibawa.

Shalat Selalu, Tapi kok Masih Maksiat ?

Shalat merupakan suatu amal ibadah yang dilakukan oleh seorang muslim yang telah aqil dan baligh. Shalat juga perkara wajib yang tidak boleh ditinggalkan serta shalat juga merupakan persoalan pertama yang dipertanggungjawabkan pada hari akhirat kelak.


Shalat juga merupakan amalan yang dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar, Allah berfirman dalam surat Al-Ankabut ayat 45 yang artinya:
"Dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar"

Tetapi banyak diantara kita yang selalu melakukan shalat tetapi masih saja berada dalam kemaksiatan, apa sebabnya ?



Bukannya Shalat yang kita salahkan tetapi itu disebabkan karena pengamalannya yang salah seperti:
1. Shalatnya masih dalam keadaan lalai karena memikirkan hal duniawi yang tiada habis-habisnya
2. Belum faham tentang bacaan shalat dan maknanya
3. Hati belum hadir, tiada menyadari bahwa ia sedang menghadap kepada Allah Penguasa sekalian alam
4. Shalat dalam keadaan seperti orang yang mabuk, tidak sadar apa yang dia perbuat dan tidak menyadari apa yang ia bacakan sampai sampai ia lupa akan rakaat shalatnya


Inilah Shalat yang tidak dapat membawaki kita kepada perubahan menuju kebaikan.Allah berfirman "Celakalah orang orang yg shalat yg mereka lalai dalam shalatnya..." (QS Al Maun 5).

Oleh karena itu wahai sahabatku, mari kita perbaiki cara shalat kita sehingga kita memperoleh keistimewaan dalam shalat, sadarilah bahwa ketika shalat, kita sedang menghadap Allah. Maka dengan demikian shalat kita akan khusyu dan kitapun akan memperoleh kelezatan, dan nikmatnya menghadap Allah.

Shalat dengan cara seperti inilah kita akan mengubah perilaku buruk menjadi baik sehingga sedikit demi sedikit kita akan menjauh dari perbuatan keji dan mungkar.

Allah berfirman dalam Hadis Qudsi yang artinya:
”Sesungguhnya Aku (Allah) hanya akan menerima shalat dari hamba yang dengan shalatnya itu dia merendahkan diri di hadapanKu.


Wallahu ‘alam






Jangan Pernah Menyiakan Waktu

Waktu merupakan suatu benda yang tak akan pernah kembali. Ia akan terus berjalan meskipun banyak orang yang melalaikannya. Tetapi ia akan menguntungkan bagi orang-orang yang memperlakukannya dengan baik.

Allah Berfirman dalam surah Al-Asr ayat 1 sampai 3:

(1)وَالْعَصْرِ

(2)إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ

(3)إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Artinya:
1. demi masa.
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Dalam ayat tersebut Allah menjelaskan bahwasanya manusia itu benar-benar dalam keadaan yang rugi. Kecuali oarang-orang yang beriman serta beramal saleh dengan diiringin dengan saling menasehati dalam hal kebaikan.

Kebanyakan manusia sering melalaikan dirinya dalam urusan dunia, hingga ia lupa bahwa ia akan kembali ke negeri akhirat, oleh sebab itu persiapkan diri kita dengan amal ibadah serta bertaubat kepada-Nya atas segala kesalahan dan kesilapan yang pernah kita lakukan.

Menurut pepatah arab mereka mengatakan bahwa:

الْوِقْتُ كَاالسَّيْفُ مَنْ لَمْ يَقْطَعْهُ يَقْطَعْتَ

waktu itu ibarat pedang barang siapa yang tiada memenggalnya niscaya ia memenggal (siapa saja yang tiada memenggalnya)

Maksud perkataan tersebut ialah, waktu itu akan menyesalkan siapa saja yang lalai terhadapnya sehingga ketika seseorang telah tua , ia akan teringat dengan masa lalunya yang telah ia tinggalkan dengan rasa penyesalan yang luar biasa karena telah tertipu oleh dunia.

Maka jagalah waktu baik-baik, semoga kita termasuk kedalam orang-orang yang menjaga dan menghargai waktu dan selamat dari segala penyesalan baik didunia dan diakhirat... 

Wallau ‘alam

Taqwa

Taqwa adalah menjalankan akan segala perintah Allah Azza wa Walla. serta mau menjauhi akan segala laranganNya.Kesempurnaan taqwa hanya di peroleh oleh seseorang apabila ia telah meninggalkan segala setuatu bentuk perbuatan yang membawi kepada kehinaan. Selain itu, hanya orang yang berusaha keras untuk segala macam bentuk kebaikan niscaya akan mendapatkan nilai ketakwaan sebesar apapun atau sekecil apapun tergantung dengan apa yang telah ia kerjakan, karena Allah akan membalas segala kebaikan seseorang walaupun sekecil biji pasir sehingga allah berfirman:

“dan barang siapa berbuat kebaikan sebiji dzarrah niscaya dia akan mendapatinya (pahala)” QS. Al-zalzalah:7. 

Semua itu telah tertulis didalam sebuah kitab catatan amal kita masing – masing di dalam lau mahfuz. Maka oleh karena itu Dengan jalan amal sholihlah seseorang itu dapat dikatakan sedang sebagai orang yang sedang menempuh perjalanan untuk mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub), dan orang orang yang berpegang teguh pada jalan haq dan meninggalkan yang bathil niscaya dia akan selamat di dunia dan di akhirat aminn. 

Beberapa sebab untuk memperoleh nilai-nilai ketaqwaan yang tinggi dimata Allah adalah : 

Hendaklah kita menyadari bahwa kita sebagai manusia adalah mahluk yang rendah, maka kalau kita telah menyadari diri sebagai makhluk yang rendah maka kita tidak boleh merendahkan orang yang lain, karena manusia sama sama diciptakan dari tanah pada awalnya penciptaan , selanjutnya diciptakan dari setetes air yang hina. 

Kebanyakan manusia mereka mudah sekali untuk mengeluh apanila sedang mendapat cobaan, mereka akan merasa putus asa, dan banyak yang menyalahkan orang lain serta menyalahkan Tuhan, sedangkan disaat dia mendapatkan kenikmatan yang banyak diapun lupa bersyukur kepada Allah, hingga ujungnya banyak yang merasa enggan membantu orang yang membutuhkan, padahal di sekitar kita masih banyak di jumpai anak – anak kecil yang seharusnya sekolah, dengan bermodal gelas plastik bekas, mereka berjuang mendapatkan sepeser rupiah untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Bukankah kita harus menyadari bahwa mereka juga adalah mahluk Allah sama seperti kita , maka oleh karena itu di dalam berbuat baik kita tidaklah boleh membeda– bedakan mereka. 

Allah telah memberikan kita nikmat yang tiada tara, namun Allah tidak pernah meminta manusia untuk membalasnya dari apa apa yang kita dapatkan. Oleh karena itu marilah kita senantiasa bersyukur kepada Allah SWT.Karena seorang Muslim yang baik tentunya kita harus menyadari bahwa setiap yang awal pasti ada akhir, setiap hidup pasti ada mati, karena setiap yang hidup telah ditetapkan ajalnya oleh Allah Swt.

Maka oleh sebab itu marilah kita Bertaqwa kepada Allah dengan sebenar benarnya agar, bersyukur kepadanya atas segala nikmat yang telah diberikannya karena dengan ketaqwaan itu maka Allah Akan menaikkan deraja kita dan kitapun akan selamat di dunia dan di akhirat aminn.....

Alternatif Kata ''Jangan" Untuk Anak

Kebanyakan orang di Indonesia saat ini lebih terbiasa mengatakan JANGAN kepada anaknya, kata kata ini bahkan telah menjadi kebiasaan orang tua untuk melarang sesuatu perbuatan yang dinilainya tidak baik, seperti Jangan Malas, Jangan Melawan, Jangan Nakal, dll.

Apakah teman-teman juga termasuk salah satu yang menggunakan perkataan jangan atau pernah merasakannya ketika orang tua anda melarang anda dengan menggukan kata Jangan ?. Berikut ini adalah alternatif bagi kita untuk mengganti kata Jangan :

Kata " Jangan"
Alternatif Tanpa Kata Jangan
Jangan buang sampah sembarangan
Sampahnya masukan ke tempatnya, ya
Jangan Berebut
Mainnya gantian, ya
Jangan berteriak
Ibu dapat mendengarmu, sayang. Coba kecilkan suaramu.
Jangan berebut
Mainnya gantian, ya
Jangan memukul teman!
Sayangi temanmu.
Jangan berantakin mainan!
Usai main, kembalikan mainannya ke tempatnya, ya
Jangan rusak mainan!
Ingat film Toys? Nah, ayo gunakan mainannya dengan benar
Jangan malas!
Coba lebih rajin lagi
Jangan loncat-loncat di sofa
sofa untuk duduk, sayang. meloncatnya diluar saja, ya.
Jangan cemberut!
Ayo senyum!
Jangan ngambek!
Coba katakan dengan jelas apa yang adik mau.
Jangan melawan ibu!
Coba dengarkan perkataan ibu
Jangan lari-larian dalam rumah
Kalau ingin berlari, kita main diluar saja, ya
Jangan berkelahi
Ayo, main sama-sama
Jangan lambat
Ayo bergegas, nanti adik terlambat
Jangan injak tanamannya
Lewat sini saja.


9 Nama Anak Syaitan Yang Tugasnya Menggoda Manusia

Amirul Mukminin, Umar bin Khattab berkata, bahwasanya terdapat 9 jenis anak syaitan yang tugasnya menghasut, menggoda, serta melalaikan umat manusia, 9 jenis anak syaitan tersebut adalah:

1. Zalituun
Zalituun adalah syaitan yang berada dipasar-pasar yang tugasnya menggoda manusia untuk berbelanja secara berlebihan bahkan ia menggoda manusia untuk membeli barang yang tidak bermanfaat.

2. Wathiin
Wathiin adalah syaitan yang tugasnya menggoda manusia yang sedang terkena musibah agar manusia tersebut berprasangka buruk kepada Allah sehingga manusia tersebut jatuh kedalam kemaksiatan.

3. A'awan
A'awan adalah syaitan yang tugasnya menghasut para penguasa agar ia jauh dari para ulama serta menggoda para penguasa untuk tidak mau memperdulikan rakyat sehingga seluruh kepentingan rakyat terabaikan karenanya.

4. Haffaf
Haffaf adalah syaitan yang berkawan dengan orang yang suka minum-minuman yang diharamkan dan ia juga berkawan dengan orang yang suka berpergian ketempat maksiat.

5. Murrah
Murrah adalah syaitan yang suka melalaikan manusia yang suka dengan musik dan kemewahan secara berlebihan sehingga menyebabkan seseorang manusia itu lupa kepada Allah.

6. Masuud
Masuud adalah syaitan yang tugasnya duduk di bibir mulut manusia yang menggoda manusia untuk menfitnah, menggosip , serta mengumpat kepada sesama manusia yang dapat menyebabkan permusuhan diantara keduanya.

7. Daasim 
Daasim adalah syaitan yang menunggu di depan pintu rumah yang apabila seseorang tidak mengucapkan salam ketika masuk kedalam rumah, maka ia akan menyebabkan permusuhan dan pertengkaran didalam rumah tangga. Maka berilah salam sebelum masuk kedalam rumah agar rumah tangga anda selalu sejahtera.

8. Walahaan 
Walahaan adalah syaitan yang tugasnya memberikan rasa was-was ( ragu ragu dalam diri manusia ) dalam sah atau tidaknya seseorang dalam hal ibadah, seperti memberikan rasa was-was kepada manusia dalam melakukan niat sholat pada saat takbiratul ikhram.

9. Lakhuus 
Lakhuus adalah syaitan yang berkawan dengan orang majusi yang menyembah api dan matahari.

Adab seorang Guru

Guru merupakan seorang yang menunjuki murid kepada suatu bidang ilmu pengetahuan dan memperkenalkan segala tata caranya sehingga kesempurnaan ilmu dari seorang seorang guru maka akan diikuti oleh muridnya. 


Maka seorang guru harus memiliki sifat sifat yang terpuji, berakhlak muliah , penyayang karena apabila seorang guru bersifat dengan sifat yang terpuji, maka sifat seorang muridpun akan menjadi sempurna.

Seorang guru diharuskan menjunjung tinggi nilai ketaqwaan, kerendahan hati, lemah lembut kepada murid, tegas, dan berwibawa.Karena Seorang murid itu diibaratkan seperti kertas yang putih yang siap menerima warna apapun yang akan diberikan oleh gurunya sehingga warna tersebut akan melekat kedalam hati dan pikirannya.

Oleh sebab itu seorang guru wajib melarang muridnya untuk mempelajari ilmu yang berbahaya yang dapat merusak iman dan aqidahnya dan mengingatkannya agar tidak menuntut ilmu yang dapat menjauhkan diri kepada Allah Swt.

Demikian lagi wajib bagi seorang guru melarang muridnya untuk sibuk dengan hal-hal yang bersifat fardu kifayah sebelum menyelesaikan yang fardu ain serta membekali dirinya terlebih dahulu dengan sikap takwa agar simurid selamat imannya di dunia dan diakhirat.

Tawadhu'

Tawadhu` berarti merendahkan diri, rendah hati, maksud merendahkan di sini bukan berarti menghinakan diri sendiri, akan tetapi orang yang tawadhu yaitu orang yang tidak menyombongkan diri terhadap segala suatu yang dimilikinya baik amal atau pun harta , karena bahwa sesungguhnya orang yang tawadhu` itu lebih mulia di mata Allah, karena Allah tidak menyukai orang yang sombong. Bahkan orang yang tawadhu` sangat mulia baik di mata manusia terlebih lagi di hadapan Allah SWT.

Nabi Muhammad saw. bersbada yang artinya:
Barang Siapa yang merendah diri dihadapan Allah, niscaya Allah akan mengangkat derajatnya, sedangkan siapa yang sombong maka Allah akan menurunkannya sampai kederajat yang paling rendah”.

Tawadhu juga berarti menetapkan sesuatu pada tempatnya sesuai dengan haknya, maksudnya tidak merendahkan hal yang seharusnya mulia, serta tidak meninggikan hal yang seharusnya rendah. Pada jaman sekarang, sangat susah untuk menemukan orang-orang yang berlaku demikian, banyak manusia ketika memiliki harta atau jabantan akan saling merendahkan terhadap sesama manusia yang lain , padahal Nabi Muhammad saja sangat menghormati para sahabatnya meskipun usianya masih sangat muda jika dibandingkan dengannya. Dan banyak pada saai ini orang yang kaya yang tidak menghargai orang miskin, padahal Nabi Sulaiman itu yang jauh lebih kaya akan tetapi beliuau sangat menghormati umatnya yang kurang mampu. Dan lagi ada yang merasa dirinya tampan sehungga merasa bangga hingga membuatnya melecehkan orang yang dianggapnya jelek, padahal jika dibandingkan dirinya dengan Nabi Yusuf sudah tentu belum ada apa-apanya.

Maka ta`atilah kita terhadap apa apa yang telah diajarkan didalam agama islam dan menjauhi apa apa saja yang telah dilarang , bersifatlah dengan tawadhu` janganlah menyombongkan diri , karena kita ini hanyalah mahkluk yang tidak ada apa apanya , Maka oleh sebab itu marilah kita merlatih diri untuk bersifat Tawadhu sehingga kita aman dan tentram didunia dan diakhirat.

Aminnn....


Adab Seorang Murid

Seorang murid harus mempunyai adab dan tatakrama yang mulia, pada ketika ia sedang bersama teman-temannya, ketika sendiri ataupun ketika bersama gurunya. Karena adab akan membuat seorang murid akan menjadi mulia dan akan dihormati, akan tetapi jika seseorang tiada memiliki adab niscaya ia akan menjadi hina dan takkan ada seorangpun yang akan menghormatinya.
 
Adapun adab seorang murid terhadap dirinya adalah:
1.Meninggalkan segala bentuk sifat yang buruk seperti ujub atau pamer dan merasa dirinya paling bagus sehingga membuat dirinya lupa kepada Allah sebagai Dzat yang telah memberikannya bagus serta merasa dirinya sendiri sukses tanpa pertolongan Allah.
2. Tawadhu` (rendah hati) dan berlaku jujur sehingga mendapatkan kasih sayang dari orang lain.
3.Wiqor (berwibawa) dalam setiap perbuatan dan kelakuan.
4.Menjaga segala panca indera dari segala hal yang haram .
5.Berusaha menjadi orang yang amanah , apalagi dengan ilmu yang telah didapatkannya.
6.Menjawab pertanyaan dengan semampunya bukan dengan asal asalan.

Adapun adab seorang murid terhadap gurunya ialah :
1.Meyakini bahwa guru kita mempunyai kedudukan seperti orang tua kita, bahkan mungkin bisa lebih tinggi, karena orang tua kita hanya memelihara jasad kita yakni dengan memberi upah untuk hidup, akantetapi guru kita berusaha memelihara jiwa dan ruhani kita dari segala keburukan batin.
2.Duduk dengan hikmah, sopan santun , dan mendengarkan segala sesuatu yang sedang dijelaskan oleh guru.
3.Tidak membicarakan kelebihan guru yang lain dihadapannya, tidak juga merendahkan kedudukan guru.
4.Tidak mempertanyakan soal yang dapat merendahkan guru (dengan maksud melecehkan).

Adapun adab murid terhadap teman - teman adalah:
1.Saling menghormati diantara sesama teman.
2.Tidak saling merendahkan teman yang lain karena lemah fikirannya.
3.Tidak menyombongkan diri dihadapan teman yang kurang paham(secara berlebihan).
4.Tidak melecehkan dan memperolok teman yang tidak mampu menjawab sebuah pertanyaan.
5.Tidak menunjukkan sikap sinis kepada seorang teman yang sedang diberikan hukuman oleh seorang guru, karena hal itu dapat menyebabkan permusuhan dan dendam antar sesama kawan yang dapat memutuskan silatirrahmi.

Akhlak Makan di dalam Islam

Agama islam adalah agama yang paling sempurna yang telah diwariskan oleh Nabi Muhammad saw, Islam tidak hanya meyuruh kita untuk beribadah saja tetapi juga mengajari kita tentang akhlak khususnya akhlak makan.

Pada saat memakan makanan, Agama Islam mempunyai tatacara tersendiri dalam mengatur tentang tatacara makan, hal ini akan sungguh bermanfaat jika dijalani sesuai dengan etikanya. Adapun Akhlak makan dalam Islam adalah:

1.Mencuci tangan sampai bersih sebelum memakan makanan. 
2.Membaca basmalah.
3.Pada saat makan usahakan berniat untuk beribadah kepada Allah agar makanan yang kita makan akan menjadi berkah bagi kehidupan. 
4.Jangan makan apabila perut masih terasa kenyang.
5.Merara cukup dengan makanan yang telah dihidangkan, janganlah merendahkan karena itu semua adalah nikmat Allah. 
6.Makan dengan tangan kanan
7.Makan dengan perlahan-lahan.
8.Mengunyah makanan dengan lembut.
9.Jangan menyentuh makanan yang sedang dihidangkan dengan tangan tetapi dengan sendok karena dapat menjijikkan orang lain. 

Adapun yang dilakukan setelah makan adalah mencuci kedua sampai bersih hingga hilanglah sisa makanan pada jari jari tangan kemudiam megucapkan puji-jujian kepada Allah dengan rasa syukur terhadap nikmat yang telah diberikan-Nya kepada kita.