Showing posts with label Khazanah. Show all posts
Showing posts with label Khazanah. Show all posts

7 Macam Seni Lagu Dalam Membaca Al-Qur'an




Setiap umat muslim didunia pasti senang ketika mendengar lantunan ayat suci Al-qur`an terlebih lagi apabila ayat-ayat yang dilantunkan itu diiringi dengan irama yang disebut juga dengan melagukan Al-Aquran.


Melagukan Al-Qur`an dengan lantunan suara serta memanfaatkan keindahan raga nada akan menghasilkan suatu keindahan baccan yang merupakan kharateristik dari membaca Al-Qur`an itu sendiri. Lagu yang disuarakan dalam bacaan kitab suci Al-Quran harus tunduk dan sesuai serta mengikuti kaidah-kaidah tartil yang tertuang dalam disiplin ilmu tajwid serta makhrojul huruf yang benar. Lagu-lagu Al-Quran semakin berkembang dan terus berjalan selain sebagai cara ibadah dan juga da'wah dan syi'ar. Dengan lantunan keindahan bacaan Al-qur'an yang dilantunkan akan mampu menggetarkan kerasnya hati siapapun yang mendengarkannya.



Adapun bebtuk-bentuk lagu dalam melantunkan lagu dalam membaca Al-quran terdiri diatas 7 maqamat, berikut penjelasannya:

Amalan Sunnah di Hari Raya 'Id

Hari raya `Id adalah hari yang tidak asing bagi kaum muslimin. Hari yang penuh suka cita, di mana kaum muslimin dibolehkan kembali makan dan minum di siang hari setelah berpuasa satu bulan penuh berpuasa dan bersenang-senang.

Oleh karena itu, ada baiknya kita mengetahui sunnah-sunnah saja yang mesti kita lakukan ketika berhari raya, agar hari raya menjadi bernilai ibadah di sisi Allah SWT.

Jumlah Huruf Dalam Al-Qur'an


Rasulullah SAW pernah mengajarkan :“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al- Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan الم satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi 

Subhanallah. Dan berapakah jumlah huruf yg ada dalam AlQur'an?

Al-Imam asy-Syaafi’i dalam kitab Majmu al Ulum wa Mathla'u an Nujum dan dikutip oleh Imam Ibn ‘Arabi dalam mukaddimah al-Futuhuat al Ilahiyah menyatakan jumlah huruf-huruf dalam Al Qur ’an diurut sesuai dengan banyaknya:

Kemuliaan Kalimat Thayyibah

Kalimat Thayyibah adalah rangkaian kata-kata dari Allah swt. beserta Rasulnya Muhammad saw. yang indah dalam susunannya dan dahsyat dalam mukjizatnya. Kalimat ini mudah diucapkan, enak didengar dan tidak terlalu sulit untuk diingat bahkan bisa dihafal dengat sekali mendengarnya. Kalimat Thayyibah cepat terserap dan menyatu dalam jiwa. Kalimat ini dapat menggetarkan hati dan menghadirkan kedamaian. Kalimatnya yang pendek tetapi keluasan isinya yang tak terhingga. Bahkan bumi bun tak sanggup untuk menampungnya. Kalimat ini memiliki kemuliaan sehingga orang-orang yang membacabta akab mendapat beribu-ribu kemuliaan. Ketika kalimat itu diucapkan oleh lisan yang suci, ia akan didengar oleh seluruh malaikat, lalu merekapun mengaminkannya. Ketika kalimat itu keluar dari hati yang ikhlas, ia akan langsung melesat menembusi langit ketujuh dan didengar oleh Allah. Allah berfirman:

مَن كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّـهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا ۚ إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ ۚ وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ ۖ وَمَكْرُ أُولَـٰئِكَ هُوَ يَبُورُ ﴿١٠

Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. Dan rencana jahat mereka akan hancur. (QS. Al-Fatir :10)

Allah telah membuatkan perumpamaan bahwa kalimat thayyibah itu ibaratkan pohon yang kokoh, yang memberikan kehidupan sepanjang waktu dan setiap saat. Allah Berfirman:

 أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّـهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ ﴿٢٤﴾تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ اللَّـهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ ﴿٢٥

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (QS. Ibrahim : 24-25)

Kalimat Thayyibah didalam Al-Qur’an diibaratkan seperti pohon yang indah, yang akarnya itu menancap ketanah dan menjalar merata kesekeliling sehingga ia menjadi kokoh, cabang dan dahannya menjulang tinggi keatas dan buahnya menjadi bahan pokok sepanjang tahun. Siapapun akan sangat membutuhkan pohon tersebut untuk bekal hidup dan mempertahankan hidup. Kalau fisik kita butuh makanan, maka pohon itulah yang menghasilkan makanan untuk fisik kita. Akan tetapi kalau rohani kita perlu makanan, maka kalimat Thayyibahlah yang menjadi menu makanan bagi rohani kita dan iapun akan memberikan kedamaian dan ketentraman bagi rohani kita. Maka, dengan demikian seorang insan akan memperoleh kemuliaan dan kejernihan hati yang diiringi dengan kesejahteraan dan ketentraman dalam hidupnya.

Wallahu 'Alam bis Shawab.

Belajar Mengubah Nasib Dari Kaum Muhajirin


Mari kita mencontohi umat islam di zaman Rasulullah. Ambillah pelajaran dari sejarah kehidupan kaum Muhajrin yang pindah dari Makkah ke Madinah. Kaum Muhajirin adalah kaum pendatang dari daerah lain. Mereka meninggalkan Makkah dan darang ke Madinah tanpa membawa apa-apa, tidak punya harta benda, dan tidak punya modal. Mereka dipersaudarakan oleh Rasulullah dengan penduduk Madinah yang disebut dengan kaum Anshar dengan ikatan islam. Kaum anshar sangat menaruh belas kasih, suka memberi dan tidak pernah berhitung-hitung harta seletah membantu saudara-saudaranya yang datang dari Makkah. Kepedulian kaum Anshar tersebut benar-benar dirasakan oleh kaum Muhajirin, dan Allah-lah yang menjadi saksinya. Allah swt. Berfirman :

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung. (QS. Al-Hasyr : 9)

Sekiranya kaum Muhajirin meminta harta, tentu kaum Anshar akan dengan senang hati memberinya, dan mereka tidak susah payah bekerja dan bisa hidup senang. Kepedulian kaum Anshar meliputi berbagai aspek dan keperluan hidup. Akan tetapi kaum muhajirin tidak mau menerima bigitu saja tanpa bekerja, mereka tidak mau menadahkan tangan. Mereka meresa hina kalau hidup menggantung atas belas kasih orang lain, apalagi untuk memperkaya diri. Bahka ada diantara mereka dengan halus menolak pemberian kaum Anshar. Mereka hanya meminta tolong kepada kaum Anshar kiranya mau menunjukkan dimana pasar tempat bertemunya pedagang dan pembeli. Setelah tahu dimana pasar itu berada, kaum muhajirinpun terlibat dengan kegiatan yang terjadi didalam pasar tersebut. Dari situlah mereka mulai mengubah nasibnya sedikit demi sedikit. Yang tadinya memberikan pertolongan, selanjutnya menjadi orang yang memberikan pertolongan. Yang tadinya diberi Zakat, kemudian berubah menjadi orang yang membagi-bagikan zakat dan memberi kepada saudara-saudaranya yang lain.

Diceritakan bahwa, sahabat Rasulullah Abdurrahman bin Auf yang datang dari Makkah bersama para sahabat. Seorang sahabat bernama Sa’ad bin Rabi’ (sahabat dari kaum Anshar) rela menyerahkan separuh hartanya kepada Abdurrahman bin Auf. Tetapi beliau menolak tawarannya itu kepada Sa’ad bin Rabi’ seraya berkata: Saudaraku, tunjukkan saja kepadaku dimana pasar? Maka berangkatlah Abdurrahman bin Auf ke pasar. Disana dia melakukan apa yang bisa dilakukan oleh orang-orang yang ada di pasar. Ia tidak mempenyai modal, tetapi dia bisa mempertemukan anata penjual dengan pembeli, dan dari situ dia mendapatkan penghasilan. Kemudian ia bisa mengubah nasibnya menjadi seorang pedangang, hingga akhirnya menjadi seorang pengusaha yang sukses.



Wallahu ‘Alam.