Showing posts with label Nasehat. Show all posts
Showing posts with label Nasehat. Show all posts

Kemuliaan Manusia

Menjalani hidup sebagai manusia merupakan anugerah yang sangat istimewa. Setiap kita dianugerahi kecerdasan intelektual, imajinasai serta perasaan. Kita bisa mengamati, meneyidiki, menganalisis, dll. Semua ini merupakan sumber kekuatan yang luar biasa.

Keutamaan dan keistimewaan manusia ditentukan oleh potensinya yang kuar biasa. Secar naluriah setipa insan mengetahui akan kebenaran ini. Karena inilah manusia menjadi makhluk yang paling mulia dibuka bumi ini dibandingkan dengan lainnya. Oleh karena itu kita sebenarnya tidak perlu mencapai prestasi apapun untuk mendapatkan harga diri dari orang lain, karena kemuliaan itu telah dianugerahkan Tuhan kepada kita.

Lakukanlah Kebaikan Sekecil Apapun

Rasulullah saw. bersabda, “Jangan meremehkan kebaikan meski hanya sedikit walaupun bertemu saudaramu dengan wajah ceria.” (HR. Muslim)

Suatu ketika Aisyah RA. Bersedekah dengan setangkai kurma. Orang-orang lalu bertanya kepadanya tentang hal tersebut. Dia menjawab, “Setangkai itu terdiri dari beberapa biji? Allah Ta’ala berfirman, “Barangsiapa yang mengerjakan amal kebaikan meski sebesar zarrah, niscaya ia akan mendapat (balasan) nya.” (QS. Al-Zalzalah : 7)


Wahai kawanku umat muslim yang sejahtera lalukanlah kebaikan walaupun dengan kadar yang sedikit dalam pandangan manusia. Karena kita tidak mengetahui kebaikan mana yang akan memasukkan diri kita kedalam surga-Nya. Pelacur dari kalangan bani israil dapat memasuki surga Allah karena memberi minum seekor anjing dengan ikhlas kepada Allah.

Bersemangatlah dalam melakukan berbagai kebaikan. Bantulah orang yang sedang dalam kesusahan, lapangkanlah orang yang mengharapkan bantuan. Tolonglah orang-orang yang dizalimi. Berilah makan orang yang lapar walaupun sedikit.

Sesungguhnya sifat yang indah dan mulia ini adalah salah astu sebab yang menjadikan seorang mukmin itu memperoleh kebahagiaan, kelapangan dada dan dapat mengusir segala keresahan, kegelisahan bahkan melenyapkan segala sesuatu yang membawaki kepada kehancuran.



Sikap Tidak Puas Termasuk Ingkat Takdir ?


Salah satu rukun iman adalah beriman terhadap qadha dan qadar. Qadha adalah ketetapan Allah SWT. Yang bersifat azali tentang ada atau tidak adanya sesuatu. Sedangkan qadar adalah penciptaan Allah atas sesuatu dalam bentuk tententu dan dalam waktu tertentu. Kadang kedua istilah ini disebut dengan makna yang sama. Biasanya orang menyebutnya dengan takdir.

Seseorang tidak mengetahui takdirnya, kecuali setelah terjadi. Hanya Allah yang maha mengetahui takdir setiap hamba-Nya. Karena itu, seseorang tidak boleh beralasan dengan takdir untuk suatu perbuatan yang belum ia kerjakan.

Sebagai bagian dari keimanan kita terhadap qadha dan qadar ini, kita wajib meyakini bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi di muka bumi ini kecuali atas pengetahuan, izin dan ketetapan Allah. Allah Ta’ala senantiasa bersikap adil dan bijaksana dalam penetapan semua qadha dan qadar-Nya juga aturanNya. Tujuan-Nya selalu selaras dengan KehendakNya. Apa yang Ia kehendaki pasti terjadi. Allah Maha Mengetahui apa yang telah, sedang dan akan terhadi. Jadi takdir itu adalah bagian dari kehendak Allah.

Adapun hikmah dirahasiakannya takdir itu adalah untuk mendorong kita untuk senantiasa beramal shalih secara sungguh-sungguh. Dalam contoh sehari-hari saja, seorang pelajar yang belum mengetahui apakah ia lulus atau tidak akan belajar sungguh-sungguh. Berbeda dengan orang yang telah diberitahu bahwa dirinya pasti lulus walaupun tanpa ujian.

Takdir tidak dapat dijadikan hujjah untuk sesutu yang akan terjadi, tapi dapat hujjah untuk sesuatu yang telah terjadi. Dizaman Khalifah Umar bin Khattab pernah terjadi pencurian. Ketika tangannya akan dipotong, ia berkata bahwa dirinya mencuri karena takdir Allah. Ungkapan inipun dibalas oleh Umar ra, “Dan kamipun memotong tanganmu atas takdir Allah”.

Keimanan terhadap takdir yang disertai keyakinan penuh dan teguh akan kemahaadilan, Allah SWT. Akan mendorong setiap muslim untuk beramal shalih. Sebab, semuanya telah ditetapkan. Kebaikan akan mendapat ganjaran baik pula, begitu pula sebaliknya. Rasulullah bersabda kepada ibnu Abbas ra, “Ketahuilah walaupun umat manusia berkumpul untuk memberimu manfaat dengan sesuatu, maka mereka tidak akan memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah atasmu. Pena-pena telah diangkat dan catatan-catatan telah kering”.

Jika kita telah berada dalam suatu kondisi, maka itulah takdir kita. Lalu, ketika kita ingin berupaya melangkah kearah yang lebih baik lagi, bukan berarti itu kufur dan ingkar terhadap takdir. Seorang mukmin dituntut untuk selalu berbuat baik dan berupaya untuk menjadi yang terbaik. Ketika ia berusaha dengan ikhlas serta sungguh-sungguh, kemudian mendapatkan hasil di luar dari harapannya, maka ia pun ridha terhadap ketentuan Allah itu. Bukan berarti ia berhenti berbuat ke arah yang lebih baik lagi, namun ia terus berusaha, karena usaha itu juga merupakan bagian dari pada ibadah.

Yang harus dialakukan oleh setiap manusia adalah beriman dan beramal shalih dengan ikhlas sebagaimana tuntunan Rasulullah saw, seraya berdoa akan diberikan akhir kehidupan yang baik.

Wallahu ‘Alam.

10 Nasihat Ulama Kepada Penguasa

Dikisahkan bahwa pernah ada seorang penguasa mengumpulkan lima orang ulama ahli bijak. Penguasa itu lalu memerintahkan kepada setiap ulama ahli bijak tersebut untuk menasihati dirinya dengan dua nasihat, sehingga terkumpullah dari pada lima ulama tersebut sepuluh nasihat, yaitu :


Ulama pertama berkata kepada sang raja :
1. Takut kepada Allah akan menyelamatkan seseorang dari semua yang ditakuti, sedangkan tidak memiliki rasa takut kepada Allah merupaka suatu kekufuran.
2. Tidak takut kepada sesama manusia adalah suatu kemerdekaan, sedangkan merasa takut kepada sesama manusia berarti menjadi budaknya.

Ulama kedua mengatakan :
3. Berharap akan (rahmat) Allah adalah kekayaan yang tidak akan dirugikan oleh kefakiran.
4. Putus asa dari rahmat Allah adalah suatu kefakiran yang menjadikan kekayaan tidak bermanfaat.

Ulama ketiga mengatakan :
5. Tidak akan ada kemudharatan dari fakir harta jika disertai dengan kaya hati (qana’ah).
6. Begitu pula sebaliknya, kaya harta tidak akan bisa memberi kemanfaatan jika disertaifakir hati (tamak).

Ulama keempat mengatakan :
7. Kaya hati yang disertai dengan murah hati tidak akan membuahkan tambahan, kecuali kekayaan.
8. Sebaliknya, fakir hati yang (meskipun) disertai banyak harta, maka hal itu tidak akan membuahkan tambahan, kecuali kefakiran.

Ulama kelima mengatakan :
9. Melakukan sedikit kebaikan itu lebih baik dari pada meninggalkan keburukan yang banyak.
10. Meninggalkan keburukan secara totalitas (keseluruhan) itu lebih baik dari pada melakukan sedikit kebaikan.

5 Penyebab Celaka Dan Bahagia

Muhammad Ibnu Dauri Radhiallahu ‘Anhu berkata : “Iblis itu celaka karena lima hal, yaitu :
1. Tidak pernah mengakui dosa yang dilakukannya
2. Tidak pernah menyesal setelah melakukan perbuatan dosa
3. Tidak pernah mencela dirinya
4. Tidak pernah punya niat untuk bertaubat
5. Putua asa dari rahmat Allah

Sebaliknya, Nabi Adam ‘Alaihis salam bahagia karena lima hal, yaitu :
1. Mau mengakui dosa yang pernah dilakukan
2. Menyesali dosanya
3. Mencela dirinya sendiri (karena melakukan suatu kesalahan)
4. Segera bertaubat (setiap kali melakukan kesalahan)
5. Tidak putus asa dari rahmat Allah.”

Kalimat pengakuan Nabi Adam ‘Alaihis salam atas dosanya adalah :

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

"Wahai Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan merahmati kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Al-‘Araaf : 23)

Berdasarkan dengan pengakuan atas dosa yang pernah dilakukan. Rasulullah Saw. Bersabda : 

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا اِعْتَرَفَ بِذَنْبِهِ ثُمَّ تَابَ تابَ اللهُ عَلَيْهِ

“Sesungguhnya seorang hamba itu jika mau mengakui dosa yang dikerjakannya. Kemudian ia bertaubat kepada Allah, niscaya Allah mengampuni dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sebagai manusia biasa, kita pasti pernah melakukan kesalahan. Maka oleh sebab itu marilah kita mengintropeksikan diri kita, dan mohon apunan dari Allah agar menjadi muslim yang terbebas dari siksaan-Nya di hari akhir nanti.

Wallahu ‘Alam.

3 Ciri Keberuntungan

Yahya bin Muaz Ar-Razi berkata : Sesunggunya yang beruntung itu adalah orang-orang yang :


1. Meninggalkan harta sebelum harta meninggalkannya
Maksudnya ialah meninggalkan (menghabiskan) harta tersebut dijalan kebaikan sebelum harta tersebut lenyap dari genggamannya. Dengan demikian, harta tersebut akan menjadi suatu amal yang akan menemaninya di hari akhirat kelak yang akan membawanya kepada kebahagiaan.

2. Membangun kuburan sebelum ia memasukinya
Maksudnya ialah hendaklah bagi seseorang untuk mempersiapkan amalnya didunia sebelum ia mati. Dengan amal tersebut, maka akan membuatnya aman dan nyaman di alam kubur nanti.

3. Membuat ridha Tuhannya sebelum ia menemui-Nya
Semua makhluk pasti akan kembali kepadanya. Dunia ini hanyalah tempat persinggahan sementara. Oleh karena itu carilah ridha Allah didalam dunia ini sebanyak-banyaknya agar kita memperoleh surga di hari akhirat nanti.

Wallahu’alam.

4 Perampas Yang Pasti Akan Datang

Para ulama telah mengatakan bahwa setiap manusia akan didatangi kepada dirinya 4 perampas yang akan mengambil sesuatu yang beharga dari dirinya yaitu :


1. Malaikat Izrail akan merampas nyawanya
Kematian merupakan suatu hal yang pasti akan terjadi pada setiap umat manusia. Apadapun kematian itu sendiri, tidak ada suatu makhlukpun yang mengetahuinya. Karena kematian itu merupakan rahasia Allah. Maka persiapkanlah dirimu sebelum Izrail datang mengambil nyawamu.

2. Ahli waris akan merampas harta bendanya
Setelah seseorang mengalami yang namanya kematian, maka seluruh harta bendanya akan diambil alih oleh ahli warisnya. Oleh karena itu sebaiknya tidak terlalu memikirkan harta secara berlebihan, karena sesungguhnya harta itu akan diambil oleh ahli warisnya setelah seseorang itu kembali kepada Allah.

3. Belatung akan merampas tubuhnya (didalam kubur). Kecuali orang yang dijaga tubuhnya oleh Allah
Orang yang telah meninggal pasti akan dikuburkan. Setelah dikuburkan maka belatung akan memakan seluruh tubuhnya, sehingga yang tersisa hanyalah tulang belulang. Ini membuktikan bahwa kita itu adalah makhluk yang hina jika dibandingkan dengan Allah. Maka tidak pantas bagi seseorang untuk menyombongkan diri pada masa hidupnya.

4. Orang yang pernah dizalimi akan merampas amalnya
Setiap orang yang telah kita zalimi, niscaya amal kita akan diambil olehnya karena sebab kezaliman kita tersebut, itupun kalau kita mimiliki amal. Tetapi kalau kita tidak memiliki amal, maka dosanya akan diberikan kepada kita, dan kitapun akan menjadi orang yang merugi. Maka sebagai orang yang beriman kita harus menjauhi perbuatan tersebut. Apabila telah terlanjur melakukannya, hendaklah segera meminta maaf.

Itulah empat perampas yang akan mengambil sesuatu yang berharga dari kita. Adapun nomor satu sampai tiga pasti akan dirasakan oleh setiap orang. Maka persiapkanlah dirimu sebelum ajal menjemput.

Wallahu’alam.