Qawaidul Fiqhiyyah: Kaidah Ghairu Asasi








١-الاِجْتِهَادُ لَايُنْقَضُ بِالْاِجْتِهَادِ



“Ijtihad yang telah lalu tidak dibatalkan oleh ijtihad kemudian.”



٢-إِذَا اجْتَمَعَ الْحَلَالُ وَالْحَرَامُ غُلِبَ الحرامُ

“Apabila berkumpul antara halal dan hara pada waktu yang sama maka dimenangkan yang haram.”


٣-الإِيْثَارُ بِالْقُرْبِ مَكْرُوْهٌ وَفِيْ غَيْرِهَا مَحْبُوْبٌ

“Mengutamakan orang lain pada urusan ibadah adalah makruh dan dalam urusan selainnya adalah disenangi.”

٤-التَابِعُ تَابِعٌ

“Pengikut itu hukumnya tetap sebagai pengikut yang mengikuti.”

٥-تَصَرُّفُ الإمَامِ عَلَى الرَعْيَة مَنُوْطٌ بالمَصْلَحَة

“Kebijakan seorang pemimpin terhadap rakyatnya bergantung kepada kemaslahatan.”

٦-الحُدُوْدُ تَسْقُطُ بالشُبْهَات

“Sanksi had gugur karena adanya syubhat.”

٧-الحُرُّ لَايَدْخُلُ تَحْتَ اليَدِ


“Orang merdeka itu tidak masuk di bawah tangan atau kekuasaan.”

٨-الحَرِيْمُ لَهُ حُكْمٌ مَاهُوَ حَرِيْمٌ لَهُ

“Hukum untuk menjaga sesuatu sama dengan yang dijaga.”

٩-اذا اجْتَمَعَ اَمْرَانِ مِنْ جِنْسٍ وَاحِدٍ وَلَمْ يَخْتَلِفْ مَقْصُوْدُهُمَا دَخَلَ اَحَدُهُمَا فِي الاَخَرِ غَالِبًا

“Apabila bersatu dua perkara dari satu jenis, dan maksudnya tidak berbeda, maka hukum salah satunya dimasukkan kepada hukum yang lain.”

١٠-اِعْمَالُ الكَلَامِ اَوْلَى مِنْ إِهْمَالِهِ

“Mengamalkan suatu kalimat lebih utama daripada mengabaikannya.”

١١- الَخرَاجُ بِالضَمَانِ

“Manfaat suatu benda merupakan faktor pengganti kerugian.”

١٢- الخُرُوْجُ مِنَ الخِلَافِ مُسْتَحَبٌّ

“Keluar dari perbedaan pendapat adalah disenangi.”

١٣-الدَفْعُ اَقْوَى مِنَ الرَفْعِ

“Menolak gugatan lebih kuat daripada menggugat.”

١٤-الرُخَصُ لَاتُنَاطُ بِالمَعَاصِى

“Keringanan itu tidak dikaitkan dengan kemaksiatan.”

١٥-الرُّخَصُ لاَتُنَاطُ بِالشَّكِ

Keringanan itu tidak dikaitkan dengan keraguan.”

١٦-الرِضَا بِالشَيْءِ رِضَى بِمَا يَتَوَلَّدُ مِنْهُ

“Ridha atas sesuatu berarti ridha pula dengan akibat yang muncul dari sesuatu tersebut.”

١٧-السُؤَالُ مُعَادٌ فِي الجَوَاب

“Pertanyaan itu terulang dalam jawaban.”

١٨-لَايُنْسَبُ اِلَى سَاكِتٍ قَوْلٌ

“Perkataan tidak bisa disandarkan kepada yang diam.”

١٩-مَا كَانَ اَكْثَرُ فِعْلًا كَانَ اَكْثَرُ فَضْلًا

“Sesuatu yang lebih banyak pekerjaannya, maka lebih banyak keutamaannya.”

٢٠-المُتَعَدِّى اَفْضَلُ مِنَ القَاصِرِ

“Perbuatan yang mencakup kepentingan orang lain lebih utama daripada kepentingan sendiri.”

٢١-الفَرْضُ اَفْضَلُ مِنَ النَفْلِ

“Fardhu lebih utama daripada yang sunnah.”

٢٢-الفَضِيْلَة المُتَعَلِّقَة بِنَفْسِ العِبَادَةِ اَوْلَى مِنَ المتعلقة بِمَكَانِهَا

“Keutamaan yang dikaitkan dengan ibadahnya sendiri lebih baik daripada yang dikaitkan dengan tempatnya.”

٢٣-الوَاجِبُ لَايُتْرَكُ اِلَّا لِوَاجِبٍ

“Sesuatu yang wajib hukumnya tidak boleh ditinggalkan kecuali ada sesuatu yang wajib lagi.”

٢٤-مَا اَوْجَبَ اَعْظَمَ الاَمْرَيْنِ بِخُصُوْصِهِلَايُوْجِبُ اَدْوَنَهُمَا بِعُمُوْمِهِ

“Sesuatu yang menjadikanlebih besar dari dua perkara sebab khususnya itu tidak mewajibkan perkara yang lebih ringan sebab umumnya.”

٢٥-مَا ثَبَتَ بِالشَرْعِ مُقَدَّمٌ عَلَى مَا وَجَبَ بِالشَرْطِ

“Apa yang ditetapkan menurut syara’ lebih didahulukan daripada sesuatu yang wajib menurut syarat.”

٢٦-مَا حَرُمَ اِسْتِعْمَالُهُ حَرُمَ اِتِّخَاذُهُ

“Apa yang haram digunakannya, haram pula didapatkannya.”

٢٧-مَا حَرُمَ اَخْذُهُ حَرُمَ اِعْطَاؤُهُ

“Apa yang haram mengambilnya, haram pula memberikannya.”

٢٨-المَشْغُوْلُ لَايَشْغَلُ

“Sesuatu yang sedang dijadikan objek perbuatan tertentu, maka tidak boleh dijadikan objek perbuatan lainnya.”

٢٩-المُكَبَّرُ لَايُكَبَّرُ

“Yang sudah dibesarkan, tidak dibesarkan lagi.”

٣٠-مَنِ اسْتَعْجَلَ شَيْئًا قَبْلَ اَوَانِهِ عُوْقِبَ بِحِرْمَانِهِ

“Barangsiapa yang mempercepat sesuatu sebelum waktunya maka menanggung akibat tidak mendapatkan sesuatu tersebut.”

٣١-النَفْلُ اَوْسَعُ مِنَ الْفَرْضِ

“Sunnah lebih luas daripada fardhu.”

٣٢-الوِلَايَة الخَاصَّة اَقْوَى من الولاية العامّة

“Kekuasaan yang khusus lebih kuat (kedudukannya) daripada kekusaan yang umum.”

٣٣-لَاعِبْرَةَ بِالظَنِّ الْبَيِّنِ خَطَؤُهُ

“Tidak dianggap (diakui), persangkaan yang jelas salahnya.”

٣٤-الاِشْتِغَالُ بِغَيْرِ المقصود إِعْرَاضٌ عن المقصود

“Berbuat yang tidak dimaksud berarti berpaling dari yang dimaksud.”

٣٥-لَايُنْكَرُ المُخْتَلَفُ فيه وانما يُنْكَرُ المُجْمَعُ عليه

“Masalah yang masih diperselisihkan tidak diingkari, sedangkan yang diingkari adalah yang disepakati.”

٣٦-يَدْخُلُ القَوِيُّ عَلَى الضَعِيْفِ وَلَا عَكْسُهُ

“Yang kuat mencakup yang lemah dan tidak sebaliknya.”

٣٧-يُغْتَفَرُ فِي الوَسَائِلِ مَالَايُغْتَفَرُ في المَقَاصِد

“Diampuni ketika menjadi sarana, tidak diampuni ketika menjadi tujuan.”

٣٨-المَيْسُوْرُ لَايَسْقُطُ بِالمَعْسُوْرِ

“Suatu perbuatan yang mudah dijalankan, tidak menggugurkan yang sukar dijalankan.”

٣٩-مَالَايَقْبَلُ التَبْعِيْضُ فَاخْتِيَارُ بَعْضِهِ كَاخْتِيِارِ كُلِّهِ وَاِسْقَاطُ بَعْضِهِكَإِسْقَاطِ كُلِّهِ

“Sesuatu yang tidak dapat dibagi, maka mengusahakan sebagiannya seperti mengusahakan seluruhnya. Demikian juga menggugurkan sebagiannya seperti menggugurkan seluruhnya.”

٤٠-اذَا اجْتَمَعَ السَبَبُ وَالغُرُوْرُ وَالمُبَاشَرَةُ قُدِمَتْ المباشرةُ

“Apabila berkumpul antara sebab, tipuan, dan pelaksanaan, maka pelaksanaan didahulukan.”

Seruan Mulia

About Seruan Mulia

situs web islami kini dan masa depan

Subscribe to this Blog via Email :