Showing posts with label Akhlak. Show all posts
Showing posts with label Akhlak. Show all posts

Kumpulan Ayat Ayat Dakwah






وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. Ali Imran [3]: 104)


كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْراً لَّهُم مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Q.S. Ali Imran [3]: 110)

Bahaya Sifat Dengki

Dengki atau hasud merupakan salah satu dari sifat yang dibenci oleh Allah SWT. Karena sifat ini mengotori kejernihan hati manusia. Orang-orang yang hatinya dipenuhi sifat dengki tidak dapat berfikir dengan jernih dan benar. Pikirannya selalu dipenuhi oleh prasangka buruk terhadap orang lain dan tipu muslihat yang kejam.

Manusia pendengki adalah manusia yang tidak pernah mensyukuri nikmat Allah, karena dirinya terlalu dibebani oleh kebencian akan nikmat yang diberikan Allah kepada orang lain, sehingga ia lupa akan nikmat yang Allah berika kepada dirinya sendiri.

Sifat dengki membuat orang sibuk mencari kesalahan orang lain, dan lupa untuk mengintropeksi diri sendiri. Seorang pendengki tidak bisa merasakan ketenangan dalam hidup, karena selalu menganggap kesuksesan orang lain sebagai ancaman dan penderitaan bagi dirinya. Padahal, setiap orang memiliki peluang yang sama untuk sukses dan berhasil.

Sebagai seorang muslim, kita harus berusaha mengikis habis rasa dengki dalam hati. Sebab, rasa dengki bisa menghabiskan amal kebaikan yang telah kita lakukan dengan susah payah, sebagaimana sabda Rasulullah saw. Dari Abu Huraira ra. Bahwa rasulullah saw. bersabda, “Jauhilah oleh kalian sifat dengki, karena sesungguhnya sifat dengki itu dapat menghabiskan amal-amal kebaikan, sebagaimana api dapat menghabiskan kayu bakar.”

Jika demikian, bukankah kita merugi, jika usaha kita untuk melakukan ibadah dengan sungguh-sungguh harus hilang hanya karena sifat hasut yang bersarang didalam hati kita. Hanya orang-orang bodoh saja yang menukar amal ibadahnya dengan membenci kesuksesan orang lain.

Lalu bagaimana mengikis rasa dengki dalam hati kita? Untuk mengikis rasa dengki, kita harus memiliki keyakinan yang kuat akan kekuasaan Allah. Kita harus yakin, bahwa kesuksesan dan kesejahteraan manusia ditentukan oleh Allah swt. Bukan semata-mata hasil kerja kerasnya. Dengan keyakinan seperti ini, kita memiliki kepercayaan yang kuat terhadap kekuasaan Allah atas segala makhluknya, termasuk terhadap nasib dan peruntungan kita.

Sifat dengki juga bisa kita kikis dengan berorientasi pada diri sendiri. Yang dimaksud disini bukan mengembangkan sifat egois dalam diri kita, tetapi lebih kepada intropeksi diri dan kemampuan memfokuskan diri. Misalnya, ketika melihat orang lain sukses, maka dalam benak kita jangan pernah berfikir bahwa dia harus gagal supaya saya sukses. Tetapi berpikirlah, saya harus sukses melebihi dia.

Maka yang menjadi ukuran kesuksesan kita adalah diri kita sendiri, sehingga kita tidak perlu mengorek-ngorek kesalahan orang lain, tetapi tetap berfokus untuk mengembangkan diri sendiri menjadi lebih baik dari orang lain.

Wallahu ‘Alam.

Pergaulan Dalam Islam

Gaul, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya hidup berteman dengan akrab. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak mungkin hidup sendiri. Mereka membutuhkan orang atau makhluk lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Kebutuhan manusia bermacam-macam. Ada yang bersifat fisik seperti makan minum dan ada yang non fisik seperti rasa aman, kasih sayang, ketenangan dan lain-lain. Untuk memenuhi berbagai kebutuhan itu, manusia membutuhkan teman yang tentu saja diperolehnya melalui pergaulan.

Masalahnya, teman seperti apa yang benar-benar baik sehingga pergaulan yang terjain sehat, dinamis dan islami. Elizabeth B. Hurlock dalam bukunya yang berjudul Development Psychology (Psikologi pengembangan), membagi teman menjadi 3 golongan yaitu :
1. Rekan, yakni orang yang menjadi teman kita karena dia berada dalam lingkungan yang sama dengan kita
2. Teman bermain, yaitu individu yang terlibat dalam kegiatan yang menyenangkan bersama 
3. Teman baik, yaitu seseorang yang dapat kita ajak bertukar pendapat, saling percaya dan saling memberi. Kelompok terakhir ini yang dalam istilah gaul disebut sohib alias teman dekat.

Sayangnya penggolongan diatas tidak menyertakan batasa-batasan khusus, tentang siapa dan kelompok apa yang pantas menjadi teman gaul kita. Hal ini berbeda dengan aturan yang tertulis dalam Al-Qur’an. Al-qur’an dengan tegas mengatur pedoman dan rambu-rambu orang yang tidak boleh alias terlarang dijadikan teman.

Allah SWT. Berfirman :

إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَىٰ إِخْرَاجِكُمْ أَن تَوَلَّوْ هُمْ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS. Al-Mumtahanah : 9)

Ayat diatas menunjukkan betapa besar perhatian Allah SWT pada kehidupan sosial hamba-Nya. Hal ini untuk menjaga agar umat islam senantiasa waspada. Sebab Syaitan sering menggunakan persahabatan sebagai senjata untuk menghancurkan Aqidah dan keimanan umat islam.

Karenanya, dalam berhubungan dengan orang lain dikenal dua istilah. Yaitu sahabat sejati dan musuh sejati. Sahabat sejati adalah orang yang selalu mengajak kita untuk mengerjakan yang ma’ruf dan meninggalkan yang mungkar. Sebaliknya musuh sejati mengajak untuk mengerjakan kemungkaran. Musuh sejati tidak selalu berarti lawan kita di mendan perang. Bahkan musuh sejati bisa jadi ada disekitar kehidupan kita. Makan bersama kita, ngobrol dan bermain bersama kita. Sehingga kadang manusia tertipu dan menganggap seseorang adalah teman sejatinya, padahal dia adalah musuh sejati yang bisa merusak kehidupan kita.

Sebelum terlambat, sebaiknya kita berpikir dan menelaah. Lebih lagi, dalam lingkunngan bagaimana kita bergaul dan siapa yang kita jadikan teman dekat kita. Jangan sampai orang yang kita anngap teman dekat, ternyata justru musuh sejati yang siap menikam aqidah dan iman kita.

Wallahu 'Alam.

Wajah Orang-Orang Beriman Akan Bercahaya Dan Wajah Orang-Orang Kafir Akan Diliputi Kehinaan

Ini merupakan sebuah rahasia yang telah diungkapkan oleh Allah didalam Kitab-Nya bahwa keimanan dan kekufuran seseorang manusia itu akan tercermin pada wajah dan kulitnya. Allah telah memberitahukan bahwa terdapat cahaya di wajah orang-orang yang beriman, yaitu orang yang taat pada perintahnya dan menjauhi larangannya. Sedangkan wajah orang-orang yang kafir akan diliputi oleh kehinaan.

Allah Berfirman :

وَتَرَاهُمْ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا خَاشِعِينَ مِنَ الذُّلِّ يَنظُرُونَ مِن طَرْفٍ خَفِيٍّ ۗ وَقَالَ الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ الْخَاسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ أَلَا إِنَّ الظَّالِمِينَ فِي عَذَابٍ مُّقِيمٍ

Dan kamu akan melihat mereka dihadapkan ke neraka dalam keadaan tunduk karena (merasa) hina, mereka melihat dengan pandangan yang lesu. Dan orang-orang yang beriman berkata: "Sesungguhnya orang-orang yang merugi ialah orang-orang yang kehilangan diri mereka sendiri dan (kehilangan) keluarga mereka pada hari kiamat. Ingatlah, sesungguhnya orang-orang yang zalim itu berada dalam azab yang kekal. (Q.s. asy-Syura: 45).

لِّلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ ۖ وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ ۚ أُولَـٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ﴿٢٦ وَالَّذِينَ كَسَبُوا السَّيِّئَاتِ جَزَاءُ سَيِّئَةٍ بِمِثْلِهَا وَتَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ ۖ مَّا لَهُم مِّنَ اللَّـهِ مِنْ عَاصِمٍ ۖ كَأَنَّمَا أُغْشِيَتْ وُجُوهُهُمْ قِطَعًا مِّنَ اللَّيْلِ مُظْلِمً ۚ أُولَـٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ ﴿٢٧

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik dan ada tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak pula kehinaan. Mereka itulah peng­huni surga, mereka kekal di dalamnya. Dan orang-orang yang mengerjakan kejahatan memperoleh balasan yang setimpal dan mere­ka diliputi kehinaan. Tidak ada bagi mereka se­orang pelindung pun dari azab Allah, seakan-akan muka mereka ditutupi dengan kepingan-kepingan malam yang gelap gulita. Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Q.s. Yunus: 26-27).

Sebegaimana yang telah dijelaskan dalam ayat-ayat tersebut, wajah orang kafir akan selalu diliputi oleh kehinaan. Sedangkan, wajah orang yang beriman akan selalu bercahaya. Allah menyatakan bahwa mereka dikenal karena adanya bekas sujud mereka karena selalu melaksanakan shalat.

Allah berfirman :

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّـهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّـهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ اللَّـهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا 

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (Q.s. al-Fath: 29).

Allah juga mengkhabarkan kepada umat islam bahwasanya orang-orang kafir dan orang-orang yang selalu hanyut dalam dosa dan maksiat dapat dikenali dengan Firmannya yaitu :


يُعْرَفُ الْمُجْرِمُونَ بِسِيمَاهُمْ فَيُؤْخَذُ بِالنَّوَاصِي وَالْأَقْدَامِ

“Orang-orang yang berdosa dikenal dengan tanda-tandanya, lalu dipegang ubun-ubun dan kaki mereka.” (Q.s. ar-Rahman: 41).

وَلَوْ نَشَاءُ لَأَرَيْنَاكَهُمْ فَلَعَرَفْتَهُم بِسِيمَاهُمْ ۚ وَلَتَعْرِفَنَّهُمْ فِي لَحْنِ الْقَوْلِ ۚ وَاللَّـهُ يَعْلَمُ أَعْمَالَكُمْ

“Dan kalau kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka, dan Allah menge­ta­hui perbuatan-perbuatan kamu.” (Q.s. Muhammad: 30).

Keajaiban dan rahasia penting yang diung­kapkan dalam al-Qur’an adalah adanya per­ubah­an fisik yang terjadi pada wajah sese­orang. Hal itu tergantung pada keimanan dan dosa seseorang. Keadaan ruhani menghasil­kan pengaruh fisik pada tubuh, sekalipun bentuknya tetap sama, namun ekspresi wajah dapat berubah, yakni wajahnya diliputi kege­lapan atau cahaya. Jika Allah menghen­daki, orang yang beriman dapat melihat keajaiban ini yang ditunjukkan kepada orang-orang. 

Wassal

7 Etika Berbicara Dalam Islam

Islam merupakan agama yang sempurna tiada agama lain yang sanggup menandinginya. Islam mengajarkan kepada umat manusia agar berpelilaku baik terhadap sesama. Salah satu diantaranya ialah etika dalam berbicara. 

Ketika seseorang berbicara maka hendaklah ia memperharikan beberapa etika yang harus dipenuhi. Adapun etika dalam berbicara yaitu sebagi berikut:

1. Hendaknya berbicara selalau didalam kebaikan karena Allah sangat senang terhadap hambanya yang suka menyebarkan kebaikan melalui perkataan yang baik sehingga dapat mendamaikan berbagai permasalahan.

2. Hendaknya berbicara dengan suara yang dapat didengan, tidak terlalu keras dan tidak pula terlalu rendah, ungkapan-ungkapannya jelas sehingga dapat dipahami oleh semua orang yang mendengarnya dan tidak dibuat-buat atau dipaksakan.

3. Jangan membicarakan sesuatu hal yang tidak berguna. Karena perkataan yang tidak berguna dapat membawaki kita kepada kelalaian. Rasulullah saw. bersabda: Termasuk kebaikan Islamnya seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna (HR. Ahmad dan ibnu Majah)

4. Menghindari perdebatan dan saling membantah, sekalipun kita berada dipihak yang benar dan menjauhi perkataan dusta sekalipun bercanda.

5. Tenang dalam berbicara dan tidak tergesa-gera. Karena setiap perbutan yang dilakukan dengan terburu-buru maka kan menghasilkan sesuatu yang kurang baik.

6. Menghindari perbuatan menggunjing dan mengadu domba. Perbutan seperti ini dapat menyebabkan permusuhan diantara kedua belah pihak, maka jauhilah perbuatan tersebut karena Allah akan murka terhadap perbuatan demikian. Allah berfirman:Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain ( QS. Al-Hujarat: 12 )

7. Mendengarkan pembicaraan orang lain dengan baik dan tidak memotongnya, juga tidak menampakkan kelebihan kita didepan orang yang sedang berbicara didepan kita karena dapat mengurangi rasa percaya dirinya terhadap kita.

3 Tingkatan Nafsu Manusia

Nafsu merupakan keinginan dan kecerundungan jiwa yang kuat untuk memperoleh sesuatu yang bersifat ibadah atau pun maksiat. Nafsu juga mempengarungi pola pikir manusia, sehingga akan membawa seseorang untuk berpikir positif ataupun negatif.

Setiap manusia pasti memiliki nafsu, keinginan seseorang terhadap sesuatu disebabkan oleh nafsu, maka Allah telah memerintahkan kita untuk mengontrol nafsu kita agar dapat mengikuti kepada jalan yang baik.

Sebagaimana yang tertulis didalam kita Sirus Salikin bahwasanya nafsu yang dimiliki oleh manusia itu terbagi atas tiga macam. Berikut penjelasannya:

1.Nafsu muthmainnah 
Yaitu nafsu yang dimiliki para Wali Allah. Nafsu ini hanya bisa dicapai dengan jalan tasawuf, tangga pertama yang harus dilalui adalah dengan bertaubat. Adapun orang yang berada pada tingkatan nafsu ini telah mendapatkan rahmat Allah sehingga akan memperoleh kasih sayang Allah di dunia dan diakhirat. Insya Allah orang yang memiliki nafsu ini akan mendapatkan Husnul Khatimah di akhir hayatnya.
Allah SWT berfirman: “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam surgaKu,” (QS Al-Fajr: 27-30).

2. Nafsu Lawwamah
Yaitu nafsu yang bisa membedakan antara baik dan buruk. Nafsu ini juga membawaki manusia untuk melakukan kebaikan. Akan tetapi pada waktu yang lain juga membawaki manusia dalam kejahatan. Nafsu ini biasanya dimiliki oleh para penuntut ilmu, sehingga pada ketika ia berbuat kejahatan, ia akan langsung bertaubat. Tetapi ia masih mengulang kesalahannya pada waktu yang lain.

Allah SWT berfirman: “(Tetapi) kerana mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al-Maidah: 13).

3.Nafsu Ammarah.
Nafsu ini adalah nafsu yang sangat berbahaya. Barang siapa yang berada pada tingkatan ini maka akan mengarahkan ia kepada perilaku yang dilarang oleh agama. Maka jika kita berjumpa dengan orang yang berada pada tingkatan nafsu ini, hendaklah kita menasehatinya agar mau bertaubat kepada Allah dan kembali kepada jalan yang lurus.

Allah SWT berfirman: “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), kerana sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,”(QS Yusuf: 53).