Biografi Khalifah Ustman Bin Affan




A. Masa Kecil Ustman bin Affan Ra[1]

Ustman lahir di Mekah pada tahun 573 M bertepatan dengan tahun keenam setelah masa kelahiran Nabi Muhammad saw. Ustman memiliki nama kecil Abu Amr. Ayahnya bernama Affan bin Abul Ash. Ustman masih merupakan keturunan dari Bani Umayyah yang disegani dan dihormati sebelum kedatangan Islam. Bila ditelusuri dari silsilah keluarganya, Ustman bin Affan masih merupakan saudara sedarah dengan Nabi Muhammad saw sebagai keturunan kelima.

Masa kecil Ustman tidak begitu banyak dapat diketahui. Tetapi suatu hal yang perlu diketahui darinya adalah kemampuannya dalam baca tulis terlihat lebih menonjol sejak dia berusia muda.


B. Ustman Sebelum Masuk Islam[2]

Karena kedermawaan, Ustman menjadi disegani dan dihormati. Suatu sifat terpuji yang perlu dijadikan teladan dan ini sangat berhubungan dengan peranannya setelah mengikuti ajaran yang dibawa Nabi Muhammad saw. Ustman mampu mempergunakandan memanfaatkan apa yang didapatnya itu dengan baik.

Ustman pantas mendapat julukan dermawan sejati sebab walaupun memiliki kekayaan berlimpah, tetapi kerendahan sifatnyaf sangat melekat di dalam kehidupannya. Inilah yang menjadikan beliau lebih dihormati dan disegani oleh masyarakat sekitarnya. Demikian juga keramahannya ampu membuatnya memperoleh banyak sahabat salah satu diantaranya adalah Abu Bakar. Hubungan kedua sahabat yang istimewa ini nanti akan menjadikan Ustman sebagai orang yang mendapat dakwah dari Abu Bakar hingga akhirnya dirinya menjadi muslim.

Sifat Ustman lainnya yang lebih dominan adalah dirinya seorang yang pemalu. Bila dibanding dengan sifat-sifat lainnya, sifat pemalunya akan terlihat dalam setiap tindakan yang dilakukannya, bahkan sifatnya ini mampu menjadikannya sebagai orang yang dicintai Rasulullah saw.


C. Ustman Masuk Islam[3]

Masuknya Ustman menjadi seorang muslim tidak lepas dari peranan Abu Bakar yang menjadi sahabat Ustman dalam berdagang. Kepercayaan Ustman terhadap Abu Bakar yang telah terjalin sejak lama sebelum Islam datang akan mampu menjadikan Ustman dengan mudahnya masuk Islam.

Berawal ketika suatu hari setelah mengadakan perjalana jauh untuk berdagang dari Syam, Ustman dan rombongannya beristirahat disuatu tempat antara Ma’an dan Azzarqa. Rasa lelah selama melakukan perjalanan jauh itu telah membuat Ustman dan Rombongannya tertidur. Dibawah pohon rindang dan teduh. Ustman membaringkan diri dan tidak lama tertidur.

Didalam tidurnya yang lelap Ustman bermimpi mendengar suara menyeru kepadanya. Suara itu menyuruhnya untuk bersegera bangkit dari tidurnya dan meneruskan perjalanan sebab orang yang bernama Ahmad telah mencul di kota Mekah. Kata-kata itu menyeru dengan jelas di telinganya, sehingga membuat Ustman tersadar dari mimpinya dan segera bangun. Mimpi itu tekah membuat sanubarinya tersentak penuh kekaguman dan mengajaknya untuk bersegera kembali ke Mekah.

Ustman yang masih diliputi tanda tanya tentang apa makna mimpinya mepercepat langkahnya melanjutkan perjalanan. Ia ingin segera bertemu dengan orang itu, orang yang adal di dalam mimpinya, orang yang akan mengajaknya ke jalan kebaikan yang hakiki.

Rombongan kafilah Ustman mulai mendekati kota Mekah yang telah sekian lama mereka tinggalkan, mendekat dan terus mendekat sehingga sampailah mereka kekampung halamannya. Belum sempat Ustman menanyakan kepada orang-orang di Mekah perihal mimpinya itu, rupanya salah seorang sahabatnya telah lebih dulu menjawabnya dengan mengabarkan berita gembira itu. Ustman telah diberitahu bahwa Muhammad saw telah dijadikan utusan Allah untuk menyeru umat manusia.

Abu bakar yang lebih dahulu masuk Islam mengajak Ustman untuk bersegera mengikuti jekak langkahnya menuju agama Allah. Sebagai sahabat dekat, Ustman tanpa ragu lagi mengikuti ajakan Abu Bakar untuk bertemu dengan Rasulullah. Abu Bakar yang telah dikenalnya sejak lama telah meyakinkan dirinya, Abu Bakar tidak mungkin menjerumuskannya kedalam kezaliman.

Rasulullah ketika itu masih berdakwah dengan sembunyi-sembunyi, dengan dibimbing dan disertai oleh Abu Bakar berangkatlah Ustman menemui Muhammad saw. yang tujuannya tidak lain untuk menyatakan diri masuk Islam. Rasulullah saw. telah menyambutnya, setelah bertatap muka dengan Rasulullah, Ustman tanpa sedikit keraguan dan penuh rasa rendah menyampaikan maksudnya kepada Rasulullah. Rasulullah menerima Ustman dan segera membai’atnya sebagai muslim. Resmilah Ustman sebagai salah satu dari tujuh orang yang pertama kali masuk Islam.


D. Ciri-Ciri Fisik Ustman[4]

Perawakan Ustman ra sedang, tidak pendek, dan tidak pula tinggi. Berwajah tampan, berkulit putih dengan rona kemerah-merahan. Diwajahnya terdapat bintik-bintik seperti bekas seperti cacar. Jenggotnya tebal. Tulang-tulang persendiannya besar. Pundaknya lebar. Betisnya gempal. Dua lengannya panjang. Dahinya lebar. Termasuk orang yang mulutnya paling indah. Rambungnya keriting dan menjulur sampai kebawah dua telinganya, disemir dengan warna kuning. Gigi-giginya dirapatkan dengan menggunakan emas.

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Abdullah ibnu Hazm al-Mazini, “Aku pernah melihat Ustman bin Affan, dan tak pernah kulihat seorangpun, baik laki-laki maupun perempuan, yang berwajah lebih rupawan dibanding Ustman.”


E. Akhlak dan Perangai Ustman

Ustman adalah pribadi yang sangat pemalu. Karena sifat malunya yang begitu kuat, Ustman takut berbicara. Namun, ketakutannya berbicaranya ini bukan disebabkan lemahnya pemahaman, Justru Ustman adalah orang yang paling bagus perkataanya, paling sempurna penuturannya. Bahkan Abdurrahman ibn Hatib berkomentar, “Aku tidak pernah menjumpai seorang sahabat Rasulullah saw. yang bila bertutur kata, perkataannya lebih sempurna dan lebih bagus dari pada Ustman bin Affan. Hanya saja, dia takut berbicara.”


F. Kesetiaan Ustman kepada Rasulullah saw.[5]

Ustman bersahabat dan setia menemani Rasulullah saw. sejak masuk Islam. Kesetiaannya laksana bayang-bayang yang mengikuti benda. Hubungan, ikatan, dan kedekatannya dengan Rasulullah saw. semakin kuat ketika dia menikahi dua putri beliau, Ruqayyah kemudia Ummu Kultsum.

Ustman tidak pernah meninggalkan beliau, baik pada saat beliau bermukim maupun saat bepergian. Dia ikut perang dan berjihad dalam semua peperangan bersama Rasulullah saw., kecuali Perang Badar. Sebab, waktu itu Raslullah menyuruhnya tetap di Madinah untuk merawat Istrinya Ruqayyah yang sedang sakit. Meski demikian, dia tetap diberi bagian harta rampasan perang. Dan berdasarkan kesepakatan para ulama dia tetap dikelompokkan sebagai sahabat peserta Perang Badar.


G. Jihad Ustman Bin Affan[6]

Utsman bin Affan ra. masuk Islam melalui dakwah Abu Bakar ra. ash-Shiddiq. Beliau adalah orang pertama yang hijrah ke negri Ethiopia bersama istrinya Ruqayah binti Rasulullah saw. kemudian kembali ke Makkah dan hijrah ke Madinah. Beliau tidak dapat ikut serta pada perang Badar karena sibuk mengurusi putri Rasulullah saw. (istri beliau) yang sedang sakit. jadi beliau hanya tinggal di Madinah. Rasulullah saw. memberikan bagian dari harta ram-pasan dan pahala perang tersebut kepada beliau dan beliau dianggap ikut serta dalam peperangan. Ketika istri beliau meninggal, Rasulullah saw. menikahkannya dengan adik istrinya yang bernama Ummu Kaltsum yang pada akhirnya juga meninggal ketika masih menjadi istri beliau. Beliau ikut serta dalam peperangan Uhud, Khandaq, Perjanjian Hudaibiyah yang pada waktu itu Rasulullah saw. membai'atkan untuk Utsman dengan tangan beliau sendiri. Utsman bin Affan ra. juga ikut serta dalam peperangan Khaibar, Tabuk, dan beliau juga pernah memberikan untuk pasukan 'Usrah sebanyak tiga ratus ekor unta dengan segala perlengkapannya. Dari Abdurrahman bin Samurah bahwa pada suatu hari Utsman bin Affan ra. Datang membawa seribu dinar dan meletakkannya di kamar Rasulullah saw. Rasulullah saw. bersabda, " Tidak ada dosa bagi Utsman setelah ia melakukan ini (diucapkan dua kali)." Rasulullah saw. pergi menunaikan haji Wada’ bersama beliau. Rasulullah saw. wafat dalam keadaan ridha terhadap Utsman bin Affan ra. Kemudian beliau menemani Abu Bakar ra. dengan baik dan Abu Bakar ra. wafat dalam keadaan ridha terhadap Utsman bin Affan ra.. Beliau menemani Umar ra. dengan baik dan Umar ra. wafat dalam keadaan ridhaterhadap Utsman bin Affan ra., serta menetap-kan bahwa beliau adalah salah seorang dari enam orang anggota Syura dan beliau sendiri adalah orang yang paling istimewa di antara anggota lainnya.


H. Keutamaan dan Kelebihan Ustman[7]

Ustman bin Affan memiliki banyak keunggulan dan keistimewaan. Ia mendapat kehormatan dengan menikahi kedua putri Rasulullah. Keistimewaan ini tidak didapat oleh sahabat lain. Keistimewaan ini tidak didapatkan oleh sahabat yang lain. Hal ini sudah cukup menjadi bukti keutamaan, kemuliaan, dan kebanggaanya.

Ath-Thabrani meriwayatkan dari Ishan Ibnu Malik, ketika putri Rasulullah wafat di pangkuan Ustman, Rasulullah bersabda, “Nikahilah Ustman. Andai aku punya gadis ketiga, niscaya sudah kunikahkan ia dengan Ustman. Aku tidak menikahkan Ustman kecuali wahyu dari Allah.”

Abu Musa al-Asy’ari meriwayatkan, bahwa suatu ketika Nabi saw. sedang berada disebuah kebun Madinah. “Beliau lalu memintaku menjaga pintu kebun itu,” tutur Abu Musa. “Lalu, datanglah seorang laku-laki minta dibukakan pintu. Nabi saw. pun berkata kepadaku, ‘Bukakan dan sampaikan kabar gembira bahwa ia akan masuk surga.’ Aku membukakan pintu dan ternyata Abu Bakar yang datang. Aku lalu menyampaikan kabar baik dari Nabi itu kepadanya. Abu Bakar memuji Allah.

Kemudian, datanglah seorang laki-laki lagi, juga minta dibukakan pintu. Nabi bersabda,’Bukakan dan sampaikan kabar gembira bahwa ia akan masuk surga.’ Aku lalu membukakan pintu untuknya. Ternyata lelaki itu adalah Umar. Aku sampaikan kabar gembira dari Nabi itu padanya. Umar pun memuji Allah.

Tak lama berselang, ada seorang lagi minta dibukakan pintu. Nabi berkata padaku, ‘Bukakan dan sampaikan kabar gembira bahwa ia akan masuk surga, karena musibah yang menimpanya.’ Ternyata lelaki itu dalah Ustman.”


I. Wasiat Nabi Kepada Utsman Agar Tidak Memenuhi Tuntutan Agar la Turun dari Jabatan[8]

Imam Ahmad berkata, "Abul Mughirah telah mengatakan kepada kami danberkata, al-Walid bin Sulaiman telah mengatakan kepada kami dan berkata, Rabi'ah bin Yazid telah mengatakan kepadaku dari Abdullah bin 'Amir dari an-Nu'man bin Basyir dari Aisyah ia berkata, 'Rasulullah saw. mengutus kepada Utsman bin Affan ra. agar ia datang menghadap. Ketika ia datang Rasulullah saw. menyambut kedatangannya. Setelah kami melihat Rasulullah saw. menyambutnya maka salah seorang kamipun menyambut kedatangan yang lain dan ucapan terakhir yang diucapkan Rasulullah saw. sambil menepuk pundaknya,'Wahai Utsman mudah-mudahan Allah akan memakaikan untukmu sebuah pakaian dan jika orang-orang munafik ingin melepaskan pakaian tersebut maka jangan engkau lepaskan hingga engkau menemuiku (meninggal).' Tiga kali..

Aku katakan, 'Ya Ummul Mukminin hadits ini aku riwayatkan darimu.' Aisyah menjawab, 'Demi Allah aku sudah lupa.' Kemudian aku beritakan hal tersebut kepada Mu'awiyah bin Abi Sufyan, namun ia kurang yakin hingga ia menulis surat kepada Ummul Mukminin, Tuliskan untukku tentang hadits ini!' Maka Ummul Mukminin menuliskan tentang hadits tersebut."


J. Berita Tentang Terjadinya Fitnah yang Menyebabkan terbunuhnya Utsman[9]

Imam Ahmad berkata, "Aswad bin Amir telah mengatakan kepada kami dan ia berkata, Sinan bin Harun telah mengatakan kepada kami dan ia berkata, Kulaib bin Waailtelah mengatakan kepada kami dari Ibnu Umar ra. ia berkata bahwa Rasulullah saw. pernahmenceritakan tentang fitnah dan beliau bersabda, 'Orang yang menyelimuti mukanya ini, akan terbunuh secara zhalim pada waktu itu.' Lalu aku melihat orang tersebut, ternyata ia adalah Utsman bin Affan ra."Hadits ini juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dari Ibrahim bin Sa'ad dari Syadzan.Beliau mengatakan, "Hadits ini hasan gharib dari sisi ini dari hadits Ibnu Umar ra."

Imam Ahmad berkata, "Affan telah mengatakan kepada kami dan ia berkata, Wuhaib telah mengatakan kepada kami dan ia berkata, Musa bin 'Utbah telah mengatakan kepada kami, kakekku dan bapak ibuku -Abu Habibah- telah mengatakan kepadaku bahwa ia masuk ke dalam rumah dan Utsman sedang terkepung di dalamnya. Beliati mendengar Abu Hurairah yang meminta izin untuk bicara maka beliau mengizinkannya. Ia berdiri seraya memuji Allah SWT. lantas berkata, "Aku mendengar Rasulullah saw. ber-sabda, ' Sesungguhnya engkau akan menemui fitnah dan perselisihan setelahku nanti -atau beliau berkata perselisihan dan fitnah- salah seorang bertanya, "Siapa yang hams kami ikuti ya Rasulullah saw.?' Beliau menjawab, 'Ikutilah al-Amin ini dan para sahabatnya.' Sambil menunjuk kepada Utsman'. Ibnu Katsir berkata, "Hanya Ahmad yang meriwayatkan hadits ini dengan sanad yang hasan jayyid. Tidak ada yang mengeluarkannya dari jalur ini."

Imam Ahmad berkata, "Abu Usamah Hamad bin Usamah telah mengatakan kepada kami dan ia berkata, Kahmas bin al-Hasan telah me-ngatakan kepada kami dari Abdullah bin Syaqiq ia berkata, Harmy bin Harits dan Usamah bin Khuraim (pada saat itu sedang berperang) telah mengatakan kepadaku dan mereka berdua mengisahkan satu hadits, mereka tidak me-nyangka bahwa masing-masing mereka telah menceritakan hadits tersebut kepadaku dari Murrah al-Bahzy ia berkata, 'Di saat kami bersama Rasulullah saw. di sebuah jalan yang ada di Madinah beliau bersabda, "Apa yang akan kalian lakukan jika fitnah menerjang seluruh penjuru bumi bagaikan tanduk sapi?" mereka bertanya, "Apa yang harus kami lakukan ya Rasululah?" Beliau menjawab, "Ikutilah orang ini dan sahabat-sahabatnya." Akupun mempercepat jalanku agar jelas bagiku hingga aku mendekati lelaki tersebut lalu kukatakan, "Apakah dia yang engkau maksud ya Rasulullah saw.?" Rasulullah saw. menjawab, " Ya dia." Ternyata lelaki itu adalah Utsman bin Affan ra.. Rasulullah saw. berkata lagi, "Ya dia dan sahabat-sahabatnya."



[1] Budi Yuwono, Hikayah Empat Khalifah, (Jakarta: Khairul Bayan), 2003, hal.110 
[2] Budi Yuwono, Hikayah Empat Khalifah, (Jakarta: Khairul Bayan), 2003, hal. 111 
[3] Budi Yuwono, Hikayah Empat Khalifah, (Jakarta: Khairul Bayan), 2003, hal. 112 
[4] Ibrahim al-Qurabi, Tarikh Khulafa, (Jakarta: Qishti Press), 2009, hal. 559 
[5] Ibrahim al-Qurabi, Tarikh Khulafa, (Jakarta: Qishti Press), 2009, hal. 562 
[6] Muhammad bin Shamil as-Sulami, (Ter. Bidayah Wan Nihayah), Jakarta: Darul Haq, 2004, hal. 293 
[7] Ibrahim al-Qurabi, Tarikh Khulafa, (Jakarta: Qishti Press), 2009, hal. 
[8] Muhammad bin Shamil as-Sulami, Ter. Bidayah Wan Nihayah, (Jakarta: Darul Haq), 2004, hal. 297 
[9] Muhammad bin Shamil as-Sulami, Ter. Bidayah Wan Nihayah, (Jakarta: Darul Haq), 2004, hal. 298

Seruan Mulia

About Seruan Mulia

situs web islami kini dan masa depan

Subscribe to this Blog via Email :