Pengertian Fi'il Salim


. وَنَعْنِيْ بِالسَّالِمِ مَا سَلِمَتْ حُرُوْفُهُ اْلاَصْلِيَّةُ الَّتِيْ تُقَابَلُ بِالْفَاءِ وَالْعَيْنِ وَالاَّمِ مِنْ حُرُوْفِ الْعِلَّةِ وَالْهَمْزَةِ وَالـتَّضْعِيْفِ.


Dan menurut kami makna salim ialah fi’il yang asalnya terdiri dari huruf fa, `ain, dan lam, seta selamat dari huruf illat, hamzah, dan tadh`if.

Menurut ulama sarat yang dimaksud dengan fi’il salim ialah fi’il yang tidak terdapat didalamnya huruf illah ( alif, waw, dan ya) dan dalam fi’il itu pula tidak ada huruf hamzah, serta didalam fi’il itu juga tidak ada huruf tadh`if (yang huruh yang digandakan atau huruf yang ditasyididkan).



Inilah Alasan Mengapa Al-Qur'an tidak Dibukukan Pada Masa Rasulullah

Al-Qur’an merupakan kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui malaikat Jibril. Al-Qur’an juga merupakan salah satu mukjizat Rasulullah saw. untuk menjawab segala tantangan dan membuktikan kebenaran agama Islam.

Pada awal periode islam Al-Qur’an hanya ditulis diatas pelepah kurma, tulang, dsb. Oleh karena itu mushaf tersebut tidak tersususn seperti saat ini sehingga sangat sulit untuk dapat mengatahui kumpulan ayat-ayat Al-Qur’an.

Namun pada masa Rasulullah banyak sahabat yang menghafal ayat ayat dari Al-Qur’an sehingga kesucian dan kemurniannya tetap terjaga.

Sekarang Al-Qur’an telah dijadikan dalam bentuk mushaf sehingga dapat memudahkan umat islam untuk mencari ayat-ayat Al-Qur’an. Lalu mengapa Al-Qur’an pada masa Nabi Muhammad saw. tidak dijadikan dalam bentuk mushaf? Berikut penjelasannya.

1. Al-Quran dituruan kan berangsung-angsur
Salah satu alasan mengapa rasulullah tidak membukukan Al-Qur’an ialah karena Allah menurunkan ayat-ayat Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad secara perlahan-lahan dan dalam jangka waktu yang lama. 

Dalam satu surat saja bisa terpotong-potong menjadi beberapa bagian. Bisa jadi ayat yang letaknya pada akhir namun Allah turunnya sejak awal. Seperti surat yang pertama diturunkan kepada Rasulullah yaitu surat Al-Alaq. Ternyata surat ini bukan menjadi surat yang pertama dalam Al-Quran.

2. Banyaknya Sabahat yang Menghafal Al-Qur’an
Pada masa itu juga banyak sabahat yang lebih mengandalkan hafalan daripada menulis. Ini karena daya ingat para sahabat sangat kuat sehingga tidak perlu adanya Al-Qur’an dalam bentuk mushaf. Akan tetapi cukup dengan hafalannya saja.

Karena Al-Qur’an masih dalam sistem hafalan, maka para sahabat yang menghafalkan Al-Qur’an juga menulis ayat-ayat tersebut dalam pelepah kurma.

3.Tidak ada Perintah dari Rasulullah untuk Membukukannya
Alasan yang terakhir mengapa Al-Qur’an tidak dijadikan mushaf ialah karena tidak adanya perintah dari Rasul kepada sahabat pada waktu itu. Jangankan dalam bentuk ucapan, dalam bentuk isyarat pun juga tidak ada.

Pada masa kehalifahan Usmab bin Affan, barulah Al-Qur’an dibukukan dan dijadikan dalam bentuk mushaf. Sehingga jadilah Al-Qur’an seperti yang kita baca saat ini.

Itulah beberapa alasanyan mengapa Al-Qur’an tidak dijadikan dalam bentuk mushaf pada zaman Rasulullah.

Semoga tulisan diatas dapat menambah wawasan kita dan bermanfaat bagi kita semua.

Wallahu ‘Alam.









Biografi Imam Nawawi

Beliau adalah al-Imam al-Hafizh, Syaikhul Islam, Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf bin Mury bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Jum’ah bin Hizam an-Nawawi ad-Dimasyqi asy-Syafi’i

Kata ‘an-Nawawi’ dinisbatkan kepada sebuah perkampungan yang bernama ‘Nawa’, salah satu perkampungan di Hauran, Syiria, tempat kelahiran beliau.

Beliau dianggap sebagai syaikh (soko guru) di dalam madzhab Syafi’i dan ahli fiqih terkenal pada zamannya.

Kelahiran dan Lingkungannya

Beliau dilahirkan pada Bulan Muharram tahun 631 H di perkampungan ‘Nawa’ dari dua orang tua yang shalih. Ketika berusia 10 tahun, beliau sudah memulai hafal al-Qur’an dan membacakan kitab Fiqih pada sebagian ulama di sana.


Proses pembelajaran ini di kalangan Ahli Hadits lebih dikenal dengan sebutan ‘al-Qira`ah’. Suatu ketika, secara kebetulan seorang ulama bernama Syaikh Yasin bin Yusuf al-Marakisyi melewati perkampungan tersebut dan menyaksikan banyak anak-anak yang memaksa ‘an-Nawawi kecil’ untuk bermain, namun dia tidak mau bahkan lari dari kejaran mereka dan menangis sembari membaca al-Qur’an. Syaikh ini kemudian mengantarkannya kepada ayahnya dan menasehati sang ayah agar mengarahkan anaknya tersebut untuk menuntut ilmu. Sang ayah setuju dengan nasehat ini.

Pada tahun 649 H, an-Nawawi, dengan diantar oleh sang ayah, tiba di Damaskus dalam rangka melanjutkan studinya di Madrasah Dar al-Hadits. Dia tinggal di al-Madrasah ar-Rawahiyyah yang menempel pada dinding masjid al-Umawy dari sebelah timur.

Pada tahun 651 H, dia menunaikan ibadah haji bersama ayahnya, lalu pulang kembali ke Damaskus.

Pengalaman Intelektualnya


Pada tahun 665 H saat baru berusia 34 tahun, beliau sudah menduduki posisi ‘Syaikh’ di Dar al-Hadits dan mengajar di sana. Tugas ini tetap dijalaninya hingga beliau wafat.

Dari sisi pengalaman intelektualnya setelah bermukim di Damaskus terdapat tiga karakteristik yang sangat menonjol:

1. Keseriusan  dalam Menuntut Ilmu Semenjak Kecil hingga Remaja
Ilmu adalah segala-galanya bagi an-Nawawi sehingga dia merasakan kenikmatan yang tiada tara di dalamnya. Beliau amat serius ketika membaca dan menghafal. Beliau berhasil menghafal kitab ‘Tanbih al-Ghafilin’ dalam waktu empat bulan setengah. Sedangkan waktu yang tersisa lainnya dapat beliau gunakan untuk menghafal seperempat permasalahan ibadat dalam kitab ‘al-Muhadz-dzab’ karya asy-Syairazi. Dalam tempo yang relatif singkat itu pula, beliau telah berhasil membuat decak kagum sekaligus meraih kecintaan gurunya, Abu Ibrahim Ishaq bin Ahmad al-Maghriby, sehingga menjadikannya sebagai wakilnya di dalam halaqah pengajian yang dia pimpin bilamana berhalangan.

2. Keluasan Ilmu dan Wawasannya
Mengenai bagaimana beliau memanfa’atkan waktu, seorang muridnya, ‘Ala`uddin bin al-‘Aththar bercerita, “Pertama beliau dapat membacakan 12 pelajaran setiap harinya kepada para Syaikhnya beserta syarah dan tash-hihnya; ke dua, pelajaran terhadap kitab ‘al-Wasith’, ke tiga terhadap kitab ‘al-Muhadzdzab’ , ke empat terhadap kitab ‘al-Jam’u bayna ash-Shahihain’ , ke lima terhadap kitab ‘Shahih Muslim’, ke enam terhadap kitab ‘al-Luma’ ‘ karya Ibnu Jinny di dalam ilmu Nahwu, ke tujuh terhadap kitab ‘Ishlah al-Manthiq’ karya Ibnu as-Sukait di dalam ilmu Linguistik (Bahasa), ke delapan di dalam ilmu Sharaf, ke sembilan di dalam ilmu Ushul Fiqih, ke sepuluh terkadang ter-hadap kitab ‘al-Luma’ ‘ karya Abu Ishaq dan terkadang terhadap kitab ‘al-Muntakhab’ karya al-Fakhrur Razy, ke sebelas di dalam ‘Asma’ ar-Rijal’, ke duabelas di dalam Ushuluddin. Beliau selalu menulis syarah yang sulit dari setiap pelajaran tersebut dan menjelaskan kalimatnya serta meluruskan ejaannya”.

3. Produktif di dalam Menelorkan Karya Tulis
Beliau telah interes (berminat) terhadap dunia tulis-menulis dan menekuninya pada tahun 660 H saat baru berusia 30-an. Dalam karya-karya beliau tersebut akan didapati kemudahan di dalam mencernanya, keunggulan di dalam argumentasinya, kejelasan di dalam kerangka berfikirnya serta keobyektifan- nya di dalam memaparkan pendapat-pendapat Fuqaha‘. Buah karyanya tersebut hingga saat ini selalu menjadi bahan perhatian dan diskusi setiap Muslim serta selalu digunakan sebagai rujukan di hampir seluruh belantara Dunia Islam. Di antara karya-karya tulisnya tersebut adalah ‘Syarh Shahih Muslim’, ‘al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab’ , ‘Riyadl ash-Shalihin’ , ‘ al-Adzkar’, ‘Tahdzib al-Asma’ wa al-Lughat’ ‘al-Arba’in an-Nawawiyyah’ , ‘Rawdlah ath-Thalibin’ dan ‘al-Minhaj fi al-Fiqh’.

Budi Pekerti dan Sifatnya

Para pengarang buku-buku ‘biografi’ (Kutub at-Tarajim) sepakat, bahwa Imam an-Nawawi merupakan ujung tombak di dalam sikap hidup ‘zuhud’, teladan di dalam sifat wara’ serta tokoh tanpa tanding di dalam ‘menasehati para penguasa dan beramar ma’ruf nahi munkar’.

1. Zuhud
Beliau hidup bersahaja dan mengekang diri sekuat tenaga dari kungkungan hawa nafsu. Beliau mengurangi makan, sederhana di dalam berpakaian dan bahkan tidak sempat untuk menikah. Kenikmatan di dalam menuntut ilmu seakan membuat dirinya lupa dengan semua kenikmatan itu. Beliau seakan sudah mendapatkan gantinya.


Di antara indikatornya adalah ketika beliau pindah dari lingkungannya yang terbiasa dengan pola hidup ‘seadanya’ menuju kota Damaskus yang ‘serba ada’ dan penuh glamour. Perpindahan dari dua dunia yang amat kontras tersebut sama sekali tidak menjadikan dirinya tergoda dengan semua itu, bahkan sebaliknya semakin menghindarinya.

2. Wara’
Bila membaca riwayat hidupnya, maka akan banyak sekali dijumpai sifat seperti ini dari diri beliau. Sebagai contoh, misalnya, beliau mengambil sikap tidak mau memakan buah-buahan Damaskus karena merasa ada syubhat seputar kepemilikan tanah dan kebun-kebunnya di sana.

Contoh lainnya, ketika mengajar di Dar al-Hadits, beliau sebenarnya menerima gaji yang cukup besar, tetapi tidak sepeser pun diambilnya. Beliau justru mengumpulkannya dan menitipkannya pada kepala Madrasah. Setiap mendapatkan jatah tahunannya, beliau membeli sebidang tanah, kemudian mewakafkannya kepada Dar al-Hadits. Atau membeli beberapa buah buku kemudian mewakafkannya ke perpustakaan Madrasah.

3.  Menasehati Penguasa dalam Rangka Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Pada masanya, banyak orang datang mengadu kepadanya dan meminta fatwa. Beliau pun dengan senang hati menyambut mereka dan berupaya seoptimal mungkin mencarikan solusi bagi permasalahan mereka, sebagaimana yang pernah terjadi dalam kasus penyegelan terhadap kebun-kebun di Syam.

Kisahnya, suatu ketika seorang sultan dan raja, bernama azh-Zhahir Bybres datang ke Damaskus. Beliau datang dari Mesir setelah memerangi tentara Tatar dan berhasil mengusir mereka. Saat itu, seorang wakil Baitul Mal mengadu kepadanya bahwa kebanyakan kebun-kebun di Syam masih milik negara. Pengaduan ini membuat sang raja langsung memerintahkan agar kebun-kebun tersebut dipagari dan disegel. Hanya orang yang mengklaim kepemilikannya di situ saja yang diperkenankan untuk menuntut haknya asalkan menunjukkan bukti, yaitu berupa sertifikat kepemilikan.

Akhirnya, para penduduk banyak yang mengadu kepada Imam an-Nawawi di Dar al-Hadits. Beliau pun menanggapinya dengan langsung menulis surat kepada sang raja.

Sang Sultan gusar dengan keberaniannya ini yang dianggap sebagai sebuah kelancangan. Oleh karena itu, dengan serta merta dia memerintahkan bawahannya agar memotong gaji ulama ini dan memberhentikannya dari kedudukannya. Para bawahannya tidak dapat menyembunyikan keheranan mereka dengan menyeletuk, “Sesungguhnya, ulama ini tidak memiliki gaji dan tidak pula kedudukan, paduka !!”.

Menyadari bahwa hanya dengan surat saja tidak mempan, maka Imam an-Nawawi langsung pergi sendiri menemui sang Sultan dan menasehatinya dengan ucapan yang keras dan pedas. Rupanya, sang Sultan ingin bertindak kasar terhadap diri beliau, namun Allah telah memalingkan hatinya dari hal itu, sehingga selamatlah Syaikh yang ikhlas ini. Akhirnya, sang Sultan membatalkan masalah penyegelan terhadap kebun-kebun tersebut, sehingga orang-orang terlepas dari bencananya dan merasa tentram kembali.

Wafatnya 

Pada tahun 676 H, Imam an-Nawawi kembali ke kampung halamannya, Nawa, setelah mengembalikan buku-buku yang dipinjamnya dari badan urusan Waqaf di Damaskus. Di sana beliau sempat berziarah ke kuburan para syaikhnya. Beliau tidak lupa mendo’akan mereka atas jasa-jasa mereka sembari menangis. Setelah menziarahi kuburan ayahnya, beliau mengunjungi Baitul Maqdis dan kota al-Khalil, lalu pulang lagi ke ‘Nawa’. Sepulangnya dari sanalah beliau jatuh sakit dan tak berapa lama dari itu, beliau dipanggil menghadap al-Khaliq pada tanggal 24 Rajab pada tahun itu. Di antara ulama yang ikut menyalatkannya adalah al-Qadly, ‘Izzuddin Muhammad bin ash-Sha`igh dan beberapa orang shahabatnya.

Semoga Allah merahmati beliau dengan rahmat-Nya yang luas dan menerima seluruh amal shalihnya. Amin.

sumber : https://ahlussunahwaljamaah.wordpress.com/manakib/imam-nawawi/

Doa Sebelum Makan

Makan merupakan pekerjaan yang dilakukan oleh setiap orang untuk menjalankan harinya. Namun Islam telah mengajarkan kepada pengikutnya untuk membaca do'a sebelum makan. Berikut adalah lafaz doa sebelum makan.

اَللهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْمَا رَزَقْتَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Ya Allah, berkahilah kami dalam rezeki yang telah Engkau berikan kepada kami dan peliharalah kami dari siksa api neraka.

Rasulullah telah mengajarkan kepada umatnya untu selau berdoa sebelum makan. Namun dibalik perintah tersebut ternyata terdapat beberapa manfaat yang besar bagi manusia. Terutama dalam bidang kesehatan, karena setiapa minuman atau makanan yang dibacakan doa, niscaya makanan tersebut akan mengalami perubahan molekuk secara lebih baik. Sususnan molekuk inilah yang bermanfaat bagi kesehatan. Bahkan makanan yang baik (telah dibacakan do'a), akan mempengarui perilaku seseorang sehingga orang tersebut juga akan menjadi baik.

Maka hendaknya bagi oang tua agar mau mengajari anaknya membaca do'a sebelum makan agar makanan tersebut menjadi berkah. Sehingga akan membuat perilaku anak menjadi baik.

Semoga bermanfaat.

Wallahu 'Alam.

Sifat Yang Wajib Bagi Allah: Sama'

سَمْعٌ 

Sama’artinya mendengar, Mustahil shummun artinya tuli. 

Allah adalah Tuhan yang maha mendengar segala setuatu kejadian yang tejadi pada mahkluknya. Allah maha mendengar segala sesuatu sebesar apapun ia atau sekecil apapun ia. Sehingga wajib bagi kita mengitiqad bahwa Allah itu bersifat dengan sama’ (mendengar) karena tak mungkin Tuhan itu tuli karena jikalau Tuhan itu tuli , maka tidak adalah yang mengatur alam ini.

Allah SWT berfirman :

وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Dan Allah Ta’ala Mahamendengar lagi Mahamengetahui. [Al Baqarah (2) : 256]

Maka patut bagi mu`min untuk meninggalkan segala perkataan yang haram walaupun sekicil apapun adanya, sebab Allah Mahamendengar atas segala perkataan makhluknya.

6 Syarat Dalam Menuntut Ilmu

أَخِى لـَنْ تَنَالَ الْعِلْمَ إِلاَّ بِسِتَّةٍ سَأُ نْبِيْكَ عَنْ تَفْصِيْلِهَا بِبَيَانٍ : ذَكَاءٌ وَ حِرْصٌ وَ اجْتــِهَادٌ وَ دِرْهَمٌ وَصُحْبَةُ أُسْتَاذٍ وَطُوْلُ زَمَانٍ

Wahai Saudaraku! Engkau tidak akan memperoleh ilmu kecuali dengan enam perkara,akan aku berikan perincian kepadamu dengan jelas :

1. Kecerdasan
2. Ketamakan
3. Kesungguhan
4. Harta benda
5. Mempergauli Ustadz
6. Waktu yang panjang

Menuntut ilmu merupakan perkara yang wajib. Akan tetapi dalam menuntut ilmu kita harus mematuhi aturan dalam menuntut ilmu. Dalam menuntut llmu kita harus memiliki kecerdasan sehingga kita dapat mengerti apa yang diajari oleh guru. Dengan demikian ilmu yang kita tuntut akan menjadi berfaedah.

Ilmu akan dicapai dengan kesungguhan dan keseriusan serta diiringin dengan rasa ingin tahu yang sangat besar. Dengan demikian si penuntut ilmu akan memperoleh ilmu yang dia inginkan.

Namun dalam menuntut ilmu kita juga harus memiliki alat pendidikan sehingga kita akan mendapatkan ilmu dengan mudah. Karena tiada sempurna hasil dalam suatu bidang ilmu jika tidak dibantu dengan alat pendidikan.

Sebagai penuntut ilmu yang baik, hendaklah bersikap baik dan santun terhadap gurunya aga mendapat berkah, sehingga ilmu yang diperoleh akan bermanfaat bagi dirinya dan orang lain dan ilmu tersebut akan sambung menyambung hingga hari kiamat.

Ilmu itu diperoleh dengan kesabaran, maka hendaklah bagi penuntut ilmu bersabar karena ilmu baru didapat dengan pembelajaran yang membutuhkan waktu yang lama.

Demikianlah syair Imam Syafi’i yang menjelaskan 6 perkara yang harus dimiliki oleh para penuntut ilmu.

Semoga dapat dipetik hikmahnya.

Wallahu ‘Alam

Pembagian Fi'il

.ثُمَّ الْفِعْلُ اِمَّا ثُلاَثِيٌّ وَاِمَّا رُباَعِيٌّ وَكُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا اِمَّا مُجَرَّدٌ أَوْ مَزِيْدٌ فِيْهِ وَكُلُّ وَاحِدٍ مِنْهَا إِمَّا سَالِمٌ أَوْ غَيْرُ سَالِمٍ

Kemudiam fi’il itu ada yang berbentuk tsulasi (fi’il yang terdiri atas tiga huruf) dan ada yang berbentuk ruba’i (fi’il yang terdiri atas empat huruf) dan tiap-tiap dari kedua fi’il tersebut (tsulasi dan ruba’i) ada yang berbentuk mujarrad atau mazid, dan tiap-tiap salah satu dari semua fiil tersebut ada yng berbentuk salim dan ghairu salim. 

Fi’il dalam bahasa arab terbagi atas dua macam yaitu:
1. Tsulasi. Yaitu fi’il yang asalnya terdiri dari tiga huruf
2. Ruba’il. Yaitu fi’il yang asalnya terdiri dari empat huruf

Dan tiap-tiap dari kedua macam fi’il itu ada yang berbentuk mujarrad dan ada yang berbentuk mazid. Mujarrad ialah fi’il yang masih dalam bentuk asal. Sedangkan mazid ialah fi’il mujarrad yang telah ditambah dengan huruf mazid, sehingga jadilah ia fi’il mazid.

Bab Naat

اَلنَّعْتِ 

اَلنَّعْتُ تَابِعٌ لِلْمَنْعُوتِ فِي رَفْعِهِ وَنَصْبِهِ وَخَفْضِهِ، وَتَعْرِيفِهِ وَتَنْكِيرِهِ; تَقُولُ: قَامَ زَيْدٌ اَلْعَاقِلُ، وَرَأَيْتُ زَيْدًا اَلْعَاقِلَ، وَمَرَرْتُ بِزَيْدٍ اَلْعَاقِلِ
وَالْمَعْرِفَةُ خَمْسَةُ أَشْيَاءَ: اَلِاسْمُ اَلْمُضْمَرُ نَحْوَ أَنَا وَأَنْتَ، وَالِاسْمُ اَلْعَلَمُ نَحْوَ زَيْدٍ وَمَكَّةَ، وَالِاسْمُ اَلْمُبْهَمُ نَحْوَ هَذَا، وَهَذِهِ، وَهَؤُلَاءِ، وَالِاسْمُ اَلَّذِي فِيهِ اَلْأَلِفُ وَاللَّامُ نَحْوَ اَلرَّجُلُ وَالْغُلَامُ، وَمَا أُضِيفَ إِلَى وَاحِدٍ مِنْ هَذِهِ اَلْأَرْبَعَةِ 
وَالنَّكِرَةُ: كُلُّ اِسْمٍ شَائِعٍ فِي جِنْسِهِ لَا يَخْتَصُّ بِهِ وَاحِدٌ دُونَ آخَرَ، وَتَقْرِيبُهُ كُلُّ مَا صَلَحَ
دُخُولُ اَلْأَلِفِ وَاللَّامِ عَلَيْهِ، نَحْوُ اَلرَّجُلِ والفرس

Bab Naat (sifat)

Naat itu mengikuti bagi man`utnya pada ketika rafa’, nasab, khafad, ma`rifah, dan nakirahnya.

Contohnya seperti :

قَامَ زَيْدٌ اَلْعَاقِلُ

وَرَأَيْتُ زَيْدًا اَلْعَاقِلَ

وَمَرَرْتُ بِزَيْدٍ اَلْعَاقِلِ

Isim Ma’rifah itu terbagi lima:

1.Isim muzmar , seperti :

نَحْوَ أَنَا وَأَنْتَ

2.Isim alam , seperti :

نَحْوَ زَيْدٍ وَمَكَّةَ

3.Isim mubham , seperti :

هَذَا، وَهَذِهِ، وَهَؤُلَاءِ

4.Isim yang terdapat alif lam , seperti :

اَلرَّجُلُ وَالْغُلَامُ

5.Isim yang diidhafahkan kepada salah satu dari pada yang empat diatas.

Sedangkan Nakirah adalah setiap isim yang beraneka ragam yang tidak tertentu pada sesuatu. Dan dapat dipahamkan bahwa nakirah itu adalah tiap-tiap isim yang dapat masuk alif lam seperti :

اَلرَّجُلِ

الفرس

Doa Ketika Bangun Dari Pada Tidur

Tidur adalah kebiasaan seseorang yang dilakukan setiap hari dengan tujuan untuk mengistirahatkan seluruh anggota tubuh yang telah digunakan untuk bekerja dan beraktifitas. Setiap manusia butuh tidur untuk memulihkan kembali tegana, pikiran, dan keadaan tubuh agar menjadi fit kembali.

Adapun ketika seseorang telah terbangun dari tidurnya, maka hendaklah ia membaca doa ini agar mendapatkan pahala dan diselamatkan dari segala masalah yang akan terjadi ketika akan beraktifitas setelahnya. Doa tersebut ialah :

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى أَحْيَانَا بَعْدَمَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ 

Artinya: 
Segala puji bagi Allah yang menghidupkan aku kembali setelah mematikan aku dan kepada Allah akan bangkit

Amalan ini didasarkan dari sebuah hadis yang diriwayat oleh oleh Hudzaifah dan Abu Dzarr r.a. yang berbunyi :

عَنْ حُذَيْفَةَ وَأَبِىذَرٍّ رَضِىَاللّهُعَنْهُمَا قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَاأَوَى إِلىَ فِرَاشِهِ قَالَ : بِاسْمِكَ اللّهُمَّ أَحْيَاوَأَمُوتُ ، وَإِذَااسْتَيْقَظَ قَالَ : اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى أَحْيَانَا بَعْدَمَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ . رَوَاهُ الْبُخَارِىُّ

Artinya:
Hudzaifah r.a. dan Abu Dzarr keduanya berkata : Adalah Rasulullah saw. jika akan tidur ia membaca : Dengan nama-Mu ya Allah aku hidup dan mati, dan apabila bangun tidur beliau membaca : Segala puji bagi Allah yang menghidupkan aku kembali setelah mematikan aku dan kepada Allah akan bangkit. (H.R. Bukhari)

Percakapan Bahasa Arab Tentang Ta'aruf (Perkenalan)

Ketika kita berjumpa dengan salah seorang yang belum kita kenal, baik disekolah, ataupun dilingkungan sekitar pasti kita akan ingin berkenalan dengan orang tersebut. 

Berikut ini adalah contoh teks percakapan dengan bahasa arab tentang ta'aruf (perkenalan). Bacalah dengan baik serta praktikkanlah bersasa-sama teman.


حَارِسُ : السَّلَامُ عَلَيْكُم

ثَابِتٌ : و َعَلَيْكُمُ السَّلَامُ

حَارِسُ : أَنَا حَارِسُ. مَا سْمُكَ ؟

ثَابِتٌ : اِسْمِيْ ثَابِتٌ.

حَارِسُ : مِنْ أَيْنَ أنْتَ يَا ثَابِتٌ ؟

ثَابِتٌ : أَنَا مِنْ مَالِيْزِيَا

حَارِسُ : أَهْلًا وَ سَهْلًا
 
ثَابِتٌ : أَهْلًا بِكَ


Haris : Asalamualaikum

Tsabit : Wa alaikum salam

Haris : Saya haris, apa namamu ?

Tsabit : Namu saya Tsabit

Haris : Dari mana asalmu wahaiTsabit ?

Tsabit : Saya berasal dari Malaysia

Haris : Selamat datang

Tsabit : Sama-sama

 

خَوْلَة: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ 

خَدِيْجَة: وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ 

خَوْلَة: اِسْمِيْخَوْلَة، مَا اسْمُكِ؟ 

خَدِيْجَة: اِسْمِيْ خَدِيْجَة 

خَوْلَة: كَيْفَ حَالُكِ ؟ 

خَدِيْجَة: بِخَيْرٍ،وَالْحَمْدُ للهِ. وَكَيْفَ حَالُكِ أَنْتِ ؟ 

خَوْلَة: بِخَيْرٍ، وَالْحَمْدُ للهِ


Khaulah : Assalamualaikum

Khadijah : Wa alaikum salam

Khaulah : Perkenalkan Nama saya Khaulah, apa namamu?

Khadijah : Nama saya Khadijah

Khaulah : Bagaimana keadaanmu ?

Khadijah : Baik, alhamdulillah. Kalau kamu bagaimana?

Khaulah : Baik, alhamdulillah

Nasihat Dari Sang Harimau

Pada Suatu hari, dua orang pemuda berjalan-jalan mengelilingi hutan untuk melakukan pengamatan.Mereka telah berteman sejal lama, bahkan mereka pun telah menjadi teman yang akrab.

Namun ketika mereka sedang mengamati hutan yang indah tersebut, tiba-tiba muncul seekor harimau dari semak-semak. Harimau itu terlihat seram dan ganar, ditambah lagi dengan ukurannya yang sangat besar.

Paka ketika itu salah seorang diantara mereka langsung melarikan diri dengan cepat dan langsung memanjat keatas pohon, hingga ia sampat pada dahan yang tinggi sehingga harimau tidak bisa menerkamnya lagi.

Sedangkan temannya yang satu lagi masih dalam keadaan terkejut sehingga ia tidak bisa berfikir hingga ia tidak sanggup lagi berlari dan tidak mungkin lagi untuk memanjat ke atas pohon.

Ia sadar bahwa harimau pasti akan menyerangnya, tiba-tiba ia pun menjatuhkan dirinya dan berbaring diatas tanah.

Harimau itu pun mulai mendekatinya dan mengendus-endus seluruh muka dan tubuhnya. Ia pun menaham nafasnya dan berpura-pura mati.

Ajaibnya! Beberapa saat kemudian, harimau itu pun menjauhinya. 

Setelah harimau itu pergi menjauh, temannya yang bersembunyi diatas pohon tadi segera turun dan ia pun merasa lega karena ia tak terluka.

Kemudian ia mendekati temannya yang masih berpura-pura mati tadi. Dan ia bertanya kepada temannya, "Apakah kau tidak apa-apa?" Jawabnya, "ia aku tak apa-apa","(dengan candaan ia berkata) bahkan si harimau itu membisikkan sesuatu kepadaku".

Lalu dengan wajah yang sedikit tertawa ia bertanya,"Hehe, Emangnya apa yang dibisikkan si harimau kepadamu?"

Dengan agak sedikit kecewa ia menjawab," Harimau itu membisikkan nasihat padaku, jangan berpergian dengan seorang teman yang suka meninggalkan temannya bila terjadi bahaya.

Selesai

Cara Agar Syaitan Tidak Masuk Kerumah Kita

Syaitan merupakan makhluk ciptaan Allah yang berasal dari golongan jin. Keberadaan merera tak dapat dilihat oleh manusia kecuali manusia yang memiliki indra keenam. Syaitan leluasa masuk kedalam rumah manusia yang bertujuan untuk menggoda manusia agar mereka lalai terdapap perintah Allah dan Rasul-Nya.


Sebagai seorang yang muslim, Rasulullah telah mengajarkan kepada kita cara-cara menangkal syaitan agar tidak masuk kedalam rumah kita. Berikut penjelasannya:

1. Membaca bismillah ketika hendak masuk dan keluar rumah
Rasulullah saw. bersabda : “Dan tutuplah pintu kalian seraya membaca bismillah, karena syaitan tidak akan mampu membuka pntu rumah yang tertutup (karena telah membaca bismillah).” (HR. Bukhari dan Muslim).

Maka hendaklah bagi kita sebagai umat muslim untul membaca bismillah saat masuk dan keluar dari rumah agar kita terjauh dari syaitan yang menggoda kita dari pagi dan petang, siang dan malam. Dengan demikian keluarga kita akan terjauh dari godaan-godaan syaitan laknatullah.

2. Menutup pintu rumah dan menahan anak agar tidak keluar rumah pada waktu magrib
Rasulullah saw. bersabda : “Apabila malam telah datang tahanlah anak-anak kalian, karena syaitan bertebaran pada waktu itu. Apabila telah berlalu sesaat dari waktu isya, lepaskanlah mereka. Tutuplah pintumu dan sebutlah nama Allah”. (HR. Bukhari)

Pada waktu magrib syaitan sedang berkeliaran, maka pada sat itu kita dianjurkan untuk menutup pintu rumah dengan membaca bismillah dan menahan anak-anak agar tidak keluar rumah kecuali untuk hal yang penting bagi agama dan keluarga.

Itulah cara yyang diajarkan oleh Rasulullah untuk menghalau syaitan dan kawan-kawannya agar tidak masuk kedalam rumah kita.

Segoba bermanfaat dan dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Wallahu ‘Alam.




Tafsir Surat Al-Kafirun

سورة الكافرون

بسم الله الرحمن الرحيم

١-)قل يا أيها الكافرون

٢-)لا أعبد (  في الحال   )ما تعبدون (  من الأصنام

٣-)ولا أنتم عابدون ( في الحال   )ما أعبد ( وهو الله تعالى وحده

٤-)ولا أنا عابد ( في الاستقبال   )ما عبدتم

٥-)ولا أنتم عابدون ( في الاستقبال   )ما أعبد ( علم الله منهم أنهم لا يؤمنون وإطلاق ما على الله على وجه المقابلة

٦-)لكم دينكم ( الشرك   )ولي دين ( الإسلام قبل أن يؤمر بالحرب وحذف ياء الإضافة القراء السبعة وقفا ووصلا وأثبتها يعقوب في الحالين





Terjemah

Surat Al-Kafirun ( Orang-Orang Kafir ) 

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

1. (Katakanlah, "Hai orang-orang kafir!) 

2. (Aku tidak akan menyembah) maksudnya sekarang aku tidak akan menyembah (apa yang kalian sembah) yakni berhala-berhala yang kalian sembah itu. 

3. (Dan kalian bukan penyembah) dalam waktu sekarang (Tuhan yang aku sembah) yaitu Allah swt. semata. 

4. (Dan aku tidak mau menyembah) di masa mendatang (apa yang kalian sembah.) 

5. (Dan kalian tidak mau pula menyembah) di masa mendatang (Tuhan yang aku sembah) Allah swt. telah mengetahui melalui ilmu-Nya, bahwasanya mereka di masa mendatang pun tidak akan mau beriman. Disebutkannya lafal Maa dengan maksud Allah adalah hanya meninjau dari segi Muqabalahnya. Dengan kata lain, bahwa Maa yang pertama tidaklah sama dengan Maa yang kedua. 

6. (Untuk kalianlah agama kalian) yaitu agama kemusyrikan (dan untukkulah agamaku") yakni agama Islam. Ayat ini diturunkan sebelum Nabi saw. diperintahkan untuk memerangi mereka. Ya Idhafah yang terdapat pada lafal ini tidak disebutkan oleh ahli qiraat sab'ah, baik dalam keadaan Waqaf atau pun Washal. Akan tetapi Imam Ya'qub menyebutkannya dalam kedua kondisi tersebut.

Bab Segala Amil Yang Masuk Kepada Mubtada dan Khabar

بَابُ اَلْعَوَامِلِ اَلدَّاخِلَةِ عَلَى اَلْمُبْتَدَأِ وَالْخَبَرِ

وَهِيَ ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ: كَانَ وَأَخَوَاتُهَا، وَإِنَّ وَأَخَوَاتُهَا، وَظَنَنْتُ وَأَخَوَاتُهَا.
فَأَمَّا كَانَ وَأَخَوَاتُهَا: فَإِنَّهَا تَرْفَعُ اَلِاسْمَ، وَتَنْصِبُ اَلْخَبَرَ، وَهِيَ كَانَ، وَأَمْسَى، وَأَصْبَحَ، وَأَضْحَى، وَظَلَّ، وَبَاتَ، وَصَارَ، وَلَيْسَ، وَمَا زَالَ، وَمَا اِنْفَكَّ، وَمَا فَتِئَ، وَمَا بَرِحَ، وَمَا دَامَ.
وَمَا تَصَرَّفَ مِنْهَا نَحْوَ كَانَ، وَيَكُونُ، وَكُنْ، وَأَصْبَحَ وَيُصْبِحُ وَأَصْبِحْ، تَقُولُ "كَانَ زَيْدٌ قَائِمًا، وَلَيْسَ عَمْرٌو شَاخِصًا" وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ.
وَأَمَّا إِنَّ وَأَخَوَاتُهَا: فَإِنَّهَا تَنْصِبُ الاسْمَ وَتَرْفَعُ الْخَبَرَ، وَهِيَ: إِنَّ، وَأَنَّ، وَلَكِنَّ، وَكَأَنَّ، وَلَيْتَ، وَلَعَلَّ، تَقُولُ: إِنَّ زَيْدًا قَائِمٌ، وَلَيْتَ عَمْرًا شَاخِصٌ، وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ، وَمَعْنَى إِنَّ وَأَنَّ لِلتَّوْكِيدِ، وَلَكِنَّ لِلِاسْتِدْرَاكِ، وَكَأَنَّ لِلتَّشْبِيهِ، وَلَيْتَ لِلتَّمَنِّي، وَلَعَلَّ لِلتَّرَجِي وَالتَّوَقُعِ.
وَأَمَّا ظَنَنْتُ وَأَخَوَاتُهَا: فَإِنَّهَا تَنْصِبُ الْمُبْتَدَأَ وَالْخَبَرَ عَلَى أَنَّهُمَا مَفْعُولَانِ لَهَا، وَهِيَ: ظَنَنْتُ، وَحَسِبْتُ، وَخِلْتُ، وَزَعَمْتُ، وَرَأَيْتُ، وَعَلِمْتُ، وَوَجَدْتُ، وَاتَّخَذْتُ، وَجَعَلْتُ، وَسَمِعْتُ؛ تَقُولُ: ظَنَنْتُ زَيْدًا قَائِمًا، وَرَأَيْتُ عَمْرًا شاخصًا، وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ.

Bab Segala Amil yang Masuk Kepada Mubtada dan Khabar


Amil-amil yang masuk kepada Mubtada dan Khabar ada tiga, yaitu : 
1. Kaana dan saudara-saudaranya,
2. Innna dan saudara-saudaranya
3. Dzhanna (dzhanantu) dan saudara-saudaranya.
Adapun kaana dan saudara-saudaranya, sesungguh-nya mereka itu merafa’kan isim dan menashabkan khabar 
Kana dan Saudara-saudaranya itu adalah:
كَانَ (Ada/Adalah)

وَأَمْسَى(Waktu sore)

وَأَصْبَح(Waktu subuh)

وَأَضْحَى(Waktu Dhuha)

وَظَلَّ(Waktu siang hari)

وَبَاتَ(Waktu malam Hari)

وَصَارَ(Jadi)

وَلَيْسَ(Tidak/Bukan)

وَمَا زَالَ (tidak Terputus/tidak henti-henti/terus menerus)

وَمَا اِنْفَكَّ(tidak Terputus/tidak henti-henti/terus menerus)

وَمَا فَتِئَ(tidak Terputus/tidak henti-henti/terus menerus)

وَمَا بَرِحَ(tidak Terputus/tidak henti-henti/terus menerus)

وَمَا دَامَ (Tetap dan terus menerus/selama)

semua lafaz tersebut bisa ditashrif menurut kaidah ilmu Sharaf, seperti Contoh :

كَانَ, وَيَكُونُ, وَكُنْ

أَصْبَحَ وَيُصْبِحُ وَأَصْبِحْ

Contohnya seperti :

كَانَ زَيْدٌ قَائِمًا
وَلَيْسَ عَمْرٌو شَاخِصًا

Dan Apa yang menyerupai contoh ini.

Adapun inna dan saudara-saudaranya,Bahwa mereka berfungsi menashabkan Mubtada dan merafa’kan khabar. 


Inna dan saudara-saudaranya itu adalah:


إِنَّ ( Bahwa/Sesungguhnya)

وَأَنَّ(BAhwa?Sesungguhnya)

وَلَكِنَّ(Akan tetapi)

وَكَأَنَّ(Seumpama/Seolah-olah)

وَلَيْتَ(seandainya)

وَلَعَلَّ (semoga)


Contohnya seperti :


إِنَّ زَيْدًا قَائِمٌ


وَلَيْتَ عَمْرًا شَاخِصٌ 


Makna inna dan anna adalah untuk taukid (Menguatkan), laakinna untuk istidraak (menyusul kalimat), kaanna untuk tasybih (penyerupaan), laita untuk tamanniy (pengandaian), la’alla untuk tarajiy (pengharapan kebaikan) dan tawaqqu’ (ketakutan dari nasib buruk). 

Dan Adapun dzhanna dan saudara-saudaranya sesunggunya mereka itu menashabkan mubtada dan khabar karena keduanya itu merupakan maf’ul bagi dzhanna dan saudara-saudaranya. 

Dzannah dan saudara-saudaranya itu adalah:


ظَنَنْتُ(Aku menduga)

وَحَسِبْتُ(aku mengira)

وَخِلْتُ(Aku Menduga)

وَزَعَمْتُ(Aku Menduga dengan Yakin)

وَرَأَيْتُ(Aku melihat)

وَعَلِمْتُ(Aku mengetahui)

وَوَجَدْتُ(Aku Mendapatkan)

وَاتَّخَذْتُ(Aku Menjadikan)

وَجَعَلْتُ(Aku Menjadikan)

وَسَمِعْتُ (Aku Mendengar)

Contohnya seperti:
ظَنَنْتُ زَيْدًا قَائِمًا


وَرَأَيْتُ عَمْرًا شاخصًا

Sifat Yang Wajib Bagi Allah: Hayah

حَيَاةٌ 

Hayah artinya Hidup mustahil Mautun artinya Mati

Wajiblah bagi Allah Ta`ala itu sifat Hayah karena Jikalau Allah itu Mati niscaya tidak ada lagi yang mengurusi seluruh alam ini, sedangkan alam ini sangat;ah luas, tidak mungkin Sang pencipta alam ini binasa maka jikalau Allah itu binasa maka tiadalah alam ini.Maka dengan demikian tetaplah Allau itu dengan sifat hayah. Allah SWT. berfirman :


وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لا يَمُوتُ

Dan serahkan dirimu (tawakkal) kepada Yang Hidup Dzat Yang tidak mati. [Al Furqan (25) : 58]

Tuhan itu Hidup. Hidup Tuhan tidak berasal dari siapa pun, melainkan Tuhan Hidup dengan Sendiri-Nya. Dan mustahil Tuhan itu mati. Sedangkan kehidupan makhluq berasal dari Allah. Maka setiap yang diciptakan pasti akan kembali kepada Allah.

Allah tidak mungkin mati. Tetapi kita pasti mati. Tiada Yang Kuasa selain Allah. Dan sesungguhnya termasuk ujian yang sangat berat adalah maut. Kita  tidak ada, lalu diadakan, maka kepada Allah tempat kita kembali.

Maka patut bagi mu`min mu’taqad untuk bertawakkal (berserah diri) kepada Allah Ta’ala karena ia mengetahui bahwa ajal itu pasti akan datang maka kita harus bersiap–siap dengan mengerjakan amal kebaikan.

Pengertian Tasrif

اِعْلَمْ اَنَّ التَّصْرِيْفَ فِي اللُّغَةِ التَّغْيِيْرُ وَفِي الصِّنَاعَةِ تَحْوِيْلُ اْلأَصْلِ الْوَاحِدِ إِلَى أَمْثِلَةٍ مُخْتَلِفَةٍ لِمَعَانٍ مَقْصُوْدَةٍ لاَ تَحْصُلُ اِلاَّ بِهَا


Artinya:
Ketahuilah olehmu bahwasanya tasrif menurut bahasa artinya perubahan. 
Sedangkan menurut Istilah tasrif ialah mengubah asal (kata) yang satu kepada bentuk bentuk (kata) yang berbeda-beda supaya dapat menghasilkan maksud yang diharapkan, yang maksud tersebut tidak akan didapatkan kecuali dengan cara demikian ( tasrif ).


Jadi yang dimaksud dengan tasrif ialah perubahan suatu kata menjadi bentuk-bentuk kata yang lain sehingga menghasilkan makna yang berbeda sesuai dengan apa yang diinginkan.




Khat Diwani

Khat diwani merupakan salah satu gaya penulisan dalam bahasa arab yang muncul pada masa kerajaan Uthmaniyah. Orang yang pertama menciptakan khat ini adalah Ibrahim Munif. Namun Khat diwani ini baru terkenal pada masa Kejayaan Turki Usmani lebih spesifiknya lagi yaitu pada kepemimpinan Sultan Muhammad al-Fatih tahun 857H.


Pada periode awal, khat ini disunakan sebagai tulisan resmi yang digunakan oleh kerajaan. Seterusnya khat ini pun mulai berkembang keseluruh lapisan masyarakat. Adapun pada saat ini khat ini telh digunakan sebagai hiasan pada mesjid, pesantren, dan tempat-tempat ibadah lainnya.

Khat ini terbagi atas dua jesis yaitu:

1. Diwani Riq'a, yang tidak memiliki hiasan; garisnya lurus melainkan pada bahagian bawah huruf.

2. Diwani Jali, Tulisan jenis ini dibedakan dengan kehadiran huruf berkait dan garis lurus dari atas hingga ke bawah. Ia berselang-seling dan dibuat agar kelihatan satu. Huruf-huruf berkait membuatnya sukar dibaca atau ditulis, dan juga sukar ditiru.

Adapun keistimewaan khat diwani dapat dilihat pada bentuk hurufnya yang melengkung sehingga memerlukan kepintaran dan skil dan menulis khat tersebut.